Jateng

Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km

×

Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km

Sebarkan artikel ini
Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dan Wawali Kota Iswar Aminuddin seusai melaunching dua armada Bus listrik Trans Semarang di Balai Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

“Ini memang semuanya khusus, di desain untuk kebutuhan bus listrik, untuk bus perkotaan. Jadi, itu salah satu keunggulan dari bus yang kami sudah produksi,” jelas Stefan.

Dari sisi baterai, bus tersebut memiliki kapasitas sekitar 340 kilowatt hour (kWh). Jarak tempuh maksimal dapat mencapai sekitar 250 kilometer.

Namun, untuk menjaga kesehatan baterai, penggunaan daya tidak boleh penggunaannya hingga benar-benar habis. Dengan pola penggunaan tersebut, jarak operasional berada di kisaran 200 hingga 240 kilometer.

Pengisian daya akan terlaksana di pool operator. Daya pengisian sekitar 150 kW sehingga baterai perkiraannya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk terisi penuh.

“Kita desain bus ini memang untuk one time charging. Jadi, setelah selesai beroperasi di malam hari itu akan kita charging di malam hari. Pagi harusnya sudah siap beroperasi untuk penuh satu hari kerja operasional,” kata Stefan.

Harga Bus Sekitar Rp4,5 Miliar

Stefan mengatakan dua unit bus listrik saat ini sudah Laksana kirimkan kepada Pemkot Semarang. Pengiriman unit berikutnya akan terlaksana secara bertahap.

“Saat ini memang masih dalam proses produksi. Jadi, kita sudah delivery dua unit. Nanti dari minggu ke minggu kita akan terus melakukan delivery ke Pemkot,” ujarnya.

Untuk harga, satu unit bus listrik tersebut berada di kisaran Rp4,5 miliar.

Meski harga awal kendaraan listrik relatif tinggi, Stefan menilai karakteristik kendaraan listrik memiliki keunggulan untuk operasional transportasi perkotaan. Salah satunya terlihat saat bus melintasi jalan menanjak maupun menurun.

“Bus listrik ini justru kalau medannya nanjak turun ini justru memiliki keuntungan. Yang pertama, dia mempunyai torque yang sangat tinggi, jadi untuk nanjak itu justru lebih responsif daripada bus diesel,” jelasnya.

Pada kondisi turunan, sistem pengereman regeneratif juga dapat membantu mengembalikan sebagian energi ke baterai.

“Dan saat turunan juga karena adanya baterai dan juga kemampuan regeneratif itu akhirnya bisa mendapatkan daya yang lebih dari saat melakukan turunan,” katanya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah