SEMARANG, beritajateng.tv – Musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino berpotensi meningkatkan sejumlah penyakit di Jawa Tengah. Dinas Kesehatan Jawa Tengah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan selama musim kemarau.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah dr. Zulfachmi Wahab mengatakan terdapat sedikitnya lima faktor pada musim kemarau yang dapat memengaruhi peningkatan kasus penyakit.
“Setidaknya ada lima faktor. Yang pertama karena cuaca panas, itu berpengaruh ke penyakit. Kedua, udaranya menjadi kering, kemudian debu dan asap. Keempat, air bersih menjadi terbatas. Kelima, saat musim kemarau aktivitas orang di luar rumah lebih banyak,” kata Zulfachmi, Sabtu, 29 Agustus 2026.
BACA JUGA: Fenomena Goodzilla El Nino 2026, Berikut Dampaknya di Sejumlah Daerah
Menurutnya, kondisi udara yang kering dan meningkatnya paparan debu maupun asap terutama berpengaruh terhadap kesehatan saluran pernapasan. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu penyakit yang perlu warga waspadai.
“Kalau ISPA dari dulu memang selalu tinggi. Infeksi saluran pernapasan akut itu selalu tinggi. Dengan adanya musim kemarau, itu akan lebih meningkatkan kejadian ISPA maupun diare akut,” jelasnya.
Selain ISPA, paparan debu dan udara kering juga dapat memicu flu, bronkitis hingga kambuhnya asma pada orang yang memiliki riwayat penyakit tersebut.
“Bronkitis karena lingkungan, karena alergi debu, dan asma orang tertentu yang tadinya tidak kambuh bisa menjadi kambuh,” ujarnya.
Air bersih terbatas bisa picu gangguan pencernaan
Ia menambahkan, keterbatasan air bersih selama musim kemarau juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan.
“Kalau yang terkait dengan air bersih yang berkurang itu tentu saja penyakit yang mengenai pencernaan. Kasus-kasus diare, tifus itu akan meningkat,” katanya.
Zulfachmi menambahkan, peningkatan penyakit selama musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan udara dan air bersih. Penyakit yang menular melalui vektor seperti demam berdarah dengue (DBD) juga tetap perlu masyarakat waspadai.
“DBD itu tidak identik dengan musim hujan. DBD malah meningkat pada peralihan dari musim hujan ke musim kemarau seperti saat ini,” imbuhnya.
BACA JUGA: Fenomena Godzilla El Nino Picu Cuaca Ekstrem April 2026, Begini Penjelasannya
Kondisi kering dan banyaknya debu pada udara juga dapat mengganggu kesehatan mata. Masyarakat berisiko mengalami iritasi mata hingga konjungtivitis atau yang umum disebut belekan.
Masalah kulit juga dapat meningkat akibat cuaca panas. Keringat berlebih membuat kondisi kulit lebih lembap sehingga memicu pertumbuhan jamur dan berbagai gangguan kulit.
“Karena kulit juga akan meningkat, dermatitis. Orang berkeringat, jamur muncul di mana-mana, infeksi jamur karena kelembapan akibat keringat yang banyak,” ujarnya.
El Nino, waspada pingsan akibat kepanasan
Cuaca panas juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke atau kondisi serius akibat tubuh mengalami peningkatan suhu secara berlebihan.
Zulfachmi mengingatkan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar rumah agar mencukupi kebutuhan cairan. Menurutnya, aktivitas luar ruangan selama musim kemarau membuat tubuh lebih mudah kehilangan cairan.
“Yang paling banyak itu pingsan akibat kepanasan, heat stroke namanya. Dehidrasi juga bisa. Kalau banyak aktivitas ke mana-mana dan tidak minum, bisa pingsan gara-gara kurang cairan,” ungkapnya.
Ia meminta masyarakat mengimbangi aktivitas luar ruangan dengan konsumsi air yang cukup. Dampak cuaca panas juga dapat terasa pada kesehatan mulut, seperti sariawan dan bibir pecah-pecah.
Zulfachmi menyebut ISPA secara umum masih menjadi salah satu penyakit dengan kasus tinggi di Jawa Tengah. Sementara itu, kasus diare cenderung tidak banyak berubah, namun berpotensi meningkat ketika memasuki musim kemarau.
BACA JUGA: Antisipasi Dampak El Nino, Kementerian Pertanian Perluas Areal Tanam di Daerah Jateng
Peningkatan penyakit tersebut, lanjutnya, dapat terjadi di seluruh wilayah Jawa Tengah yang terdiri dari 35 kabupaten/kota.
Namun, wilayah dengan kondisi lingkungan yang lebih kering juga berpotensi menghadapi risiko peningkatan penyakit.
Pihaknya saat ini masih mengandalkan sistem pelaporan berjenjang untuk memantau perkembangan kasus penyakit. Data kasus berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik, puskesmas hingga rumah sakit.
“Biasanya laporan itu kalau ada kasus, ada dua tempat yang didatangi yaitu ke Puskesmas atau UGD rumah sakit rujukan. Datanya nanti bersambungan dari klinik masuk ke Puskesmas, kemudian bisa ke rumah sakit kalau terjadi kejadian yang emergensi. Sama seperti ini, laporannya berjenjang,” pungkasnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





