Tingginya penyerapan tenaga kerja tersebut berjalan beriringan dengan masuknya investasi ke Jawa Tengah. Nilai investasi yang masuk hingga semester I 2026 tercatat mencapai Rp48,54 triliun.
Di sisi lain, jumlah pencari kerja yang tercatat hingga Juli 2026 mencapai 112.082 orang. Sementara ketersediaan lowongan kerja terdata sebanyak 108.459 posisi.
Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,24 persen atau sekitar 950.000 orang.
Sementara itu, dari total 6.604 pekerja yang terkena PHK hingga akhir Juli 2026, sektor garmen dan tekstil menjadi penyumbang terbesar.
Berdasarkan data Ꭰisnakertrans Jateng, PHK pada industri garmen dan tekstil mencapai 51,4 persen. Selanjutnya industri manufaktur atau mainan anak sebesar 21,1 persen, industri kayu 12,5 persen, dan industri bulu mata 9,4 persen.
Aziz mengatakan, PHK terjadi karena sejumlah persoalan usaha. Di antaranya penutupan perusahaan akibat kerugian, menurunnya pesanan, efisiensi, kepailitan hingga force majeure seperti kebakaran.
Data PHK hingga Juli 2026 tersebut juga telah mencakup pekerja PT Victory Apparel dan PT Sambon. Meski jumlah PHK masih mencapai ribuan, Aziz mengatakan kondisi tahun ini lebih baik ԁibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, kasus Sritex menjadi salah satu faktor yang membuat angka PHK tahun lalu jauh lebih tinggi.
“Tahun lalu jumlah PHK-nya jauh lebih banyak, karena saat itu ada faktor kasus Sritex. Kalau kita lihat, tahun lalu lebih banyak,” pungkas Aziz. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





