Kalis Mardiasih, salah satu penulis dan aktivis yang vokal dengan isu perempuan menyebut bahwa film Vina: Sebelum 7 Hari itu memuat adegan kekerasan dan perkosaan brutal. Sehingga menurut Kalis, film yang berdasarkan tragedi tersebut ia anggap sebagai eksploitasi terhadap korban serta peristiwa tragis yang mereka alami.
BACA JUGA: Viral! Polda Jabar Akhirnya Umumkan 3 Pelaku dalam Kasus Pembunuhan Vina di Cirebon
Dengan adanya kontroversi tersebut, produser film Vina: Sebelum 7 Hari, Dheeraj Kalwani memberikan pembelaannya. Ia mengatakan bahwa filmnya bertujuan untuk mengedukasi para penonton, agar tak ada lagi Vina-vina berikutnya. Pembelaan Dheeraj tidak berkesinambungan dengan film yang kini telah menyoroti banyak atensi ini. Sebab, jika benar film Vina merupakan sarana edukasi, mengapa ia menunjukkan adegan kekerasan seksual sebegitu detailnya alih-alih berfokus kepada sisi psikologis dan cara penyembuhan korban?
Dalam perspektif lain, film merupakan karya seni yang tentu memiliki tujuannya masing-masing. Memiliki tema yang beragam, jika sebuah film mengambil tema kekerasan seksual, sebaiknya jadikan hal tersebut sebagai langkah untuk membuat sebuah perubahan yang positif daripada menjadikannya sebagai hiburan yang tak berempati.
Adapun, kekerasan seksual adalah tindakan kejahatan yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran terhadap kehormatan dan integritas seseorang. Ketika tema ini diangkat dalam film, seharusnya terdapat tanggung jawab besar pada pembuat film untuk tidak hanya menceritakan kisahnya, tetapi juga untuk melakukan pendekatan yang sensitif dan penuh empati.
Belum lagi menunjukkan kekerasan secara grafis dapat memicu trauma bagi penonton yang mungkin pernah mengalami hal serupa.
Dampak psikologis pun juga dapat muncul dari adanya penampilan kekerasan tersebut. Ketika kekerasan seksual ditampilkan secara berlebihan dan sensasional, ada risiko bahwa penonton menjadi kebal terhadap isu tersebut, mengurangi empati dan pemahaman mereka terhadap seriusnya masalah ini.


