Pendidikan

Forum SEMAR Satukan Lintas Agama di Semarang, Gus Huda: Perbedaan Jangan Jadi Sekat

×

Forum SEMAR Satukan Lintas Agama di Semarang, Gus Huda: Perbedaan Jangan Jadi Sekat

Sebarkan artikel ini
Forum SEMAR Satukan Lintas Agama di Semarang, Gus Huda: Perbedaan Jangan Jadi Sekat
Forum SEMAR (Senin Malam di Serambi) k menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat di Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah derasnya arus polarisasi dan berbagai persoalan sosial yang muncul di masyarakat, Forum SEMAR (Senin Malam di Serambi) kembali menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat di Kota Semarang.

Kegiatan gagasan Santri Ndalan (Sandal) Nusantara itu menghadirkan peserta dari beragam latar belakang agama, budaya, profesi, dan komunitas untuk berdiskusi dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Memasuki penyelenggaraan ketiga, forum tersebut tidak hanya membahas isu kebangsaan dan toleransi. Tetapi juga menyoroti berbagai persoalan sosial yang menjadi perhatian publik. Termasuk kasus kekerasan seksual yang belakangan mencuat di sejumlah lingkungan pendidikan berbasis agama.

BACA JUGA: Soroti Kasus Pelecehan Seksual Ponpes Demak, Ahmad Luthfi Minta Alim Ulama-Tokoh Agama Turun Tangan 

Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan Nusantara, Muchammad Nur Huda atau Gus Huda, mengatakan Forum SEMAR menjadi ruang silaturahmi sekaligus sarana memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“SEMAR hadir untuk menyatukan perbedaan. Dari yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi akrab, dari yang jauh menjadi dekat, bahkan yang semula memiliki perbedaan pandangan bisa duduk bersama dan berdialog,” ujar Gus Huda.

Ia menjelaskan, konsep yang diusung Santri Ndalan Nusantara juga terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun status sosial. Semangat tersebut, kata dia, menjadi refleksi dari nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia.

“Santri Ndalan menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kami tidak membatasi berdasarkan agama, profesi, ataupun kelompok tertentu. Yang kami utamakan adalah semangat bersama untuk menebarkan kebaikan,” katanya.

Soroti Pentingnya Merawat Kebinekaan

Dalam forum tersebut, Gus Huda menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, berbagai gesekan sosial yang muncul saat ini sering berawal dari rendahnya kemampuan masyarakat dalam menerima perbedaan.

Ia menilai keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar yang harus di jaga bersama agar tidak berubah menjadi sumber konflik.

“Kita hidup dalam bangsa yang terdiri dari berbagai agama, budaya, dan latar belakang. Karena itu, nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya masyarakat hafalkan. Tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis,” ungkapnya.

Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren Jadi Perhatian

Selain membahas toleransi dan persatuan, forum tersebut juga menyinggung maraknya kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum di lingkungan pondok pesantren. Isu tersebut menjadi perhatian karena dinilai berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan.

Gus Huda mengaku prihatin dengan berbagai kasus yang muncul. Namun ia menegaskan bahwa tindakan oknum tidak dapat jadi dasar untuk menghakimi seluruh pesantren di Indonesia.

“Sangat saya sayangkan ketika ada oknum yang selama ini menyampaikan ajaran agama dan kebaikan kepada masyarakat. Tetapi justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang di ajarkannya,” ujarnya.

Menurutnya, pesantren sejati merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama berdasarkan sanad keilmuan yang jelas, kitab-kitab yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pembentukan akhlak yang kuat.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pesantren agar kasus serupa tidak kembali terulang.

“Pengawasan yang baik sangat penting. Tujuannya bukan hanya melindungi santri, tetapi juga menjaga marwah pesantren yang selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat,” jelasnya.

Dialog Jadi Kunci Menjaga Persatuan

Bagi Gus Huda, keberadaan Forum SEMAR menjadi bukti bahwa dialog masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Melalui forum tersebut, berbagai isu sosial, keagamaan, hingga kebangsaan dapat di bahas secara terbuka tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap perbedaan pendapat.

“Kalau ruang-ruang dialog seperti SEMAR terus hidup, masyarakat akan semakin terbiasa untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Di situlah nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp