SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan Kota Semarang mengajak orang tua untuk melakukan happy parenting atau pengasuhan anak secara menyenangkan dan disiplin positif.
Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan PAUD dan PNF, Rifki Nugroho, mengatakan, Dinas Pendidikan Kota Semarang berkomitmen dalam memberdayakan peran ibu.
Kegiatan pun dikemas dalam ‘Focus Group Discussion (FGD) Happy Parenting Menuju Indonesia Emas’ dan menyasar orang tua serta guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Non Formal (PNF).
Mereka diajak mempersiapkan putra-putrinya untuk menjadi anak yang berkarakter, cerdas, dan santun guna menyongsong Indonesia Emas.
BACA JUGA: Pentingnya Life Skill untuk Perkuat Kondisi Mental Anak
“Indonesia Emas 2045 itu misal anak-anak PAUD sekarang usia 4-5 tahun, berarti tahun 2045 umurnya 21-26 tahun. Maka dari itu kita siapkan anak-anak yang usia 4, 5, 6 tahun sekarang menjadi anak yang hebat luar biasa berkarakter cerdas dengan pola asuh yang positif,” ujarnya usai workshop di Kelurahan Kuningan, Semarang Utara, Kamis, 29 Februari 2024.
Rifki menjelaskan, anak tetap membutuhkan bimbingan belajar dari orang tua selama berada rumah rumah. Meski di sisi lain, anak juga mendapatkan pembelajaran dari pihak sekolah.
Rifki menegaskan, mengasuh anak adalah tanggung jawab berdua antara sekolah dan orang tua. Hal itulah yang kemudian menjadikan ‘happy parenting’ penting bagi para orang tua.
“Dengan adanya kegiatan ini kami ajari bagaimana pola asuh ketika di rumah yang menyenangkan. Masyarakat biar happy ketika mengajarkan anak-anaknya di rumah,” imbuhnya.
Tantangan happy parenting
Sementara itu, H.M Rohaini selaku narasumber mengungkapkan, ibu merupakan sosok penting dalam pertumbuhan anak. Oleh karena itu, perlu ibu yang cerdas dan berkualitas.
Menurutnya, ibu yang berkualitas adalah gerbang pertama dari Sekolah Ramah Anak (SRA), Kota Layak Anak, hingga Provinsi Layak Anak.
“Kita akan selalu berikan edukasi bahwa anak jangan terlalu kita stressing tapi anak kita berikan edukasi sebagaimana anak itu. Misalnya usia 5-6 tahun, maka di situ banyak edukasi misal permainan,” ucap anggota DPRD Kota Semarang itu.
BACA JUGA: 4 Cara Ampuh Agar Anak Laki-laki Turuti Kata Orang Tua
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa banyaknya penduduk di Kota Semarang bukanlah hal yang menjadi ancaman. Namun sebagai tantangan. Yaitu menjadikan kuantitas tersebut menjadi berkualitas.
“Tantangan untuk mengkualitaskan anak-anak sehingga edukasi seperti ini akan menciptakan konstruksi pikiran masyarakat Kota Semarang semakin berkembang dan SDM nya semakin baik,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





