“Kopi Lawu memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Ini bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat, mulai dari budidaya, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan wisata berbasis kopi. Jika pengelolaannya baik, akan mampu membuka lapangan kerja sekaligus menambah penghasilan warga,” kata Sumanto.
Sumanto ajak warga kembangkan produk UMKM berbahan baku hasil pertanian
Selain kopi, peserta Temu Tani juga membahas peluang pengembangan produk UMKM berbahan baku hasil pertanian lokal. Beragam komoditas yang petani hasilkan memiliki potensi untuk mereka olah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Mulai dari makanan olahan, minuman, hingga produk khas yang dapat warga pasarkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Tawangmangu.
BACA JUGA: Hari Kebangkitan Nasional, Sumanto Soroti Pentingnya Peningkatan Kualitas Demokrasi
Keberadaan Kelurahan Kalisoro yang berada di jalur wisata lereng Gunung Lawu juga menjadi keuntungan tersendiri. Pemandangan alam yang asri, udara pegunungan yang sejuk, serta kekayaan budaya dan hasil pertanian dapat menjadi daya tarik. Khususnya untuk mendukung tumbuhnya sektor ekonomi kreatif.
Dalam dialog tersebut, Sumanto mendorong agar petani tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi. Namun juga mulai memikirkan strategi pemasaran, pengemasan produk, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar. Menurutnya, kemajuan desa akan tercapai ketika sektor pertanian mampu terhubung dengan UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif secara terpadu.
Kegiatan Temu Tani tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan wilayah tidak hanya berbicara tentang peningkatan hasil pertanian. Tetapi juga bagaimana memaksimalkan seluruh potensi yang daerah miliki. Dengan kekayaan alam lereng Gunung Lawu, kesuburan lahan, Kalisoro memiliki peluang besar untuk tumbuh mandiri dan sejahtera. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





