SEMARANG, beritajateng.tv – Calon presiden nomor urut 01, Anies Baswedan menjawab persoalan kekurangan dokter di Indonesia dalam di Semarang. Anies berjanji akan melibatkan stakeholder dan para ahli dalam menentukan kebijakan sekolah kedokteran jika terpilih jadi presiden nantinya.
Penjelasan Anies itu saat menjawab pertanyaan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Dr dr Zainal Muttaqin, SpBS(K), PhD saat acara Desak Anies di Kota Semarang, Senin, 5 Februari 2024.
“Bahwa menyusun kebijakan harus mendasarkan pada data yang akurat, yang kedua harus melibatkan stakeholder yang relevan sehingga kebijakan yang disusun adalah kebijakan yang menjawab persoalan,” jelasnya.
Anies menjelaskan, presiden seharusnya tidak ikut serta dalam menentukan banyaknya sekolah kedokteran yang akan dibuka. Hal tersebut, kata dia, adalah bukti kecenderungan pemerintah dalam melakukan micro management.
Padahal, lanjut Anies, pemerintah harusnya memiliki yang namanya micro question. Sehingga nantinya solusi sesuai dengan permasalahan yang ada.
“Presiden cuma bilang ‘saya ingin memastikan bahwa pendidikan kedokteran bisa menyuplai kebutuhan dokter Indonesia secara berkelanjutan’. Bagaimana caranya nah itu kerjakan, datanya, stakeholdernya, susun kebijakannya, lalu siapkan langkahnya. Tapi angkanya monggo,” tambahnya.
Anies menuturkan, menyerahkan solusi kepada stakeholder dan para ahli merupakan contoh dari micro question. Di sisi lain, ia menyebut jika micro management sangat berbahaya bagi pemerintahan karena nantinya menyebabkan bawahan tidak berani menentang atasan meski atasannya salah.
“Itu cara saya dalam menyusun keputusan ketika menghadapi persoalan yang tingkat expertisenya membutuhkan expertise-expertise spesial, termasuk di bidang kedokteran,” tandasnya.
Distribusi dokter tertumpuk di Pulau Jawa
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Dr dr Zainal Muttaqin, SpBS(K), PhD pada kesempatan itu mengatakan, pada debat terakhir kemarin, salah satu capres, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia kekurangan 140 ribu dokter sehingga berencana membangun 300 FK baru.





