SEMARANG, beritajateng.tv – Seusai mengikuti debat terakhir tadi malam, calon presiden (capres) nomor urut 01, Anies Baswedan langsung melanjutkan kampanye ‘Desak Anies‘ di Semarang pada hari Senin, 5 Februari 2024.
Anies hadir untuk berdialog bersama relawan, simpatisan, dan masyarakat Kota Semarang dalam acara ‘Desak Anies’ yang berlokasi di Gedung MAC Ballroom Majapahit, Kecamatan Pedurungan.
Acara Desak Anies di Semarang ini mulai pukul 18.00 WIB. Pantauan beritajateng.tv, ribuan peserta nampak sudah datang ke lokasi sejak pukul 15.00 WIB meski di tengah guyuran hujan.
Panitia bahkan menyediakan layar dan tenda di luar gedung untuk mengakomodir tingginya antusiasme masyarakat untuk menyaksikan Desak Anies secara langsung.
BACA JUGA: CEK FAKTA: Anies Sebut 15 Juta Orang Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Kesehatan Mental, Benar?
Anies baru naik ke panggung pada pukul 20.26 WIB. Ia menyebut, masyarakat Kota Semarang memecahkan rekor pendaftaran peserta Desak Anies selama ini.
“Kata teman-teman, proses pendaftaran ditutup karena sudah sampai 8.500, dan yang di sini (Semarang) memang yang intinya mau melakukan perubahan,” katanya mengawali orasi.
Bahkan, lanjut Anies, form pendaftaran tutup sebelum hari-H lantaran kapasitas yang terbatas.
“Ini menggambarkan, ini bukan soal artis, ini kita mau sama-sama berpikir kritis untuk Indonesia kedepannya,” imbuhnya.
Sempat kunjungi kampus dan UMKM
Sebelum hadir pada Desak Anies, Anies berkesempatan mengunjungi Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) Semarang dan Lunpia Cik Meme. Pada kesempatan itu, Anies sempat menyinggung kebijakan-kebijakan yang berpihak pada UMKM agar dapat memiliki kesempatan untuk maju dan berkembang.
“Bagaimana ada kemudahan kebijakan-kebijakan, agar yang kecil punya kesempatan untuk maju dan berkembang. Kami berharap nanti warisan budaya yang terus menerus dilakukan inovasi nantinya akan mendunia,” katanya saat berdialog di Lunpia Cik Meme.
Ia pun menyebut ketimpangan UMKM masih terjadi lantaran adanya akses permodalan yang belum merata. Menurutnya, akses permodalan ini sering kali untuk sektor yang formal, sementara mikro mayoritas malah informal.





