PATI, beritajateng.tv – Produksi gabah petani di Kabupaten Pati mengalami penurunan pada musim panen kedua tahun ini. Petani menilai cuaca yang tidak menentu selama masa tanam menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya hasil panen.
Ketua Serikat Petani Pati, Kamelan, mengatakan sebagian petani di sejumlah wilayah Kabupaten Pati saat ini mulai memasuki masa panen Musim Tanam (MT) II. Namun, hasil panen yang diperoleh tidak sebanyak musim sebelumnya.
Menurut Kamelan, penurunan produksi gabah tahun ini perkiraannya mencapai hampir 20 persen daripada panen sebelumnya.
“Cuaca tidak stabil. Saat masa penyerbukan terjadi hujan dan angin sehingga proses penyerbukan terganggu. Itu cukup berpengaruh terhadap hasil panen,” ujar Kamelan.
BACA JUGA: Tagih Janji Bulog, Petani Tebu Blora Tumpahkan 18 Truk Tebu di Depan Pabrik Gula
Petani asal Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, tersebut menjelaskan hujan yang disertai angin saat tanaman padi memasuki fase penyerbukan membuat pembentukan bulir padi tidak berlangsung optimal. Kondisi itu berdampak langsung terhadap produktivitas lahan pertanian.
Selain faktor cuaca, petani juga menghadapi tingginya biaya produksi. Kamelan menyebut harga pupuk non-subsidi dan obat-obatan pertanian terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
Akibatnya, sebagian petani mengurangi penggunaan pupuk maupun penyemprotan untuk menekan biaya produksi. Langkah tersebut membuat perawatan tanaman tidak maksimal dan berpengaruh terhadap hasil panen.
“Karena harga obat-obatan dan pupuk non-subsidi mahal, banyak petani yang menahan biaya produksi. Akibatnya pemupukan dan penyemprotan tidak maksimal,” katanya.
Kamelan berharap kondisi cuaca segera membaik agar tidak semakin memengaruhi produktivitas pertanian. Ia juga berharap pemerintah dapat mencari solusi untuk menekan harga pupuk non-subsidi yang saat ini masih tinggi.
BACA JUGA: Heboh Isu Pupuk Langka di Blora, Pupuk Indonesia: Cek Dulu, Banyak yang Tidak Terdaftar E-RDKK
Menurutnya, kenaikan harga pupuk non-subsidi diduga turut dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga biaya produksi petani semakin meningkat. (*)





