Scroll Untuk Baca Artikel
Kesehatan

Hujan Diselingi Cuaca Panas Berpotensi Tingkatkan DBD, Dinkes Jateng Beberkan Alasannya

×

Hujan Diselingi Cuaca Panas Berpotensi Tingkatkan DBD, Dinkes Jateng Beberkan Alasannya

Sebarkan artikel ini
arvian nevi
Sub koor Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Arvian Nevi saat ditemui di kantornya, Senin 5 Februari 2024 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musim hujan yang tak konsisten bisa mendorong peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sub koor Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Arvian Nevi mengungkap, datangnya hujan yang kemudian berseling dengan cuaca panas membuat peluang nyamuk aedes aegypti berkembang biak lebih banyak.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Justru kalau hujan terus akan aman. Kalau hujannya selang-seling itu bahaya. Kalau hujan terus kan saat telur nyamuk jadi jentik, dia sudah terguyur air. Tetapi kalau diselingi cuaca panas, jentiknya bisa jadi nyamuk,” ujar Arvian saat beritajateng.tv temui langsung di Dinas Kesehatan Jateng, Senin 5 Februari 2024.

Selama kurun waktu tiga tahun belakang, penyakit DBD ini selalu ada di 35 kabupaten/kota se-Jateng. Kendati demikian, lanjut Arvian, Jateng mengalami kasus penurunan DBD yang cukup signifikan pada tahun 2023.

“Di tahun 2022, kasus DBD itu mencapai 12.476 kasus, sementara di tahun 2023 itu turun menjadi 6.133 kasus. Jadi ada pengurangan hampir setengahnya atau 50 persen,” terangnya.

BACA JUGA: Semarang Jadi Salah Satu Pilot Project, Peneliti UGM Tegaskan Nyamuk Wolbachia Efektif Tangani DBD

Selain itu, angka kematian akibat DBD juga menurun signifikan. Pada tahun 2022, tercatat ada 260 kematian akibat penyakit tersebut. Sementara jumlah itu berkurang menjadi 131 orang di tahun 2023.

Penurunan kasus ini, bagi Arvian tak lepas dari peran masyarakat sebagai pemeran utama. Sebab, tak ada pencegahan paling ampuh ketimbang gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) yang sebagian besar masyarakat lakukan.

Tinggalkan Balasan