SEMARANG, beritajateng.tv – Musim hujan yang tak konsisten bisa mendorong peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Sub koor Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Arvian Nevi mengungkap, datangnya hujan yang kemudian berseling dengan cuaca panas membuat peluang nyamuk aedes aegypti berkembang biak lebih banyak.
“Justru kalau hujan terus akan aman. Kalau hujannya selang-seling itu bahaya. Kalau hujan terus kan saat telur nyamuk jadi jentik, dia sudah terguyur air. Tetapi kalau diselingi cuaca panas, jentiknya bisa jadi nyamuk,” ujar Arvian saat beritajateng.tv temui langsung di Dinas Kesehatan Jateng, Senin 5 Februari 2024.
Selama kurun waktu tiga tahun belakang, penyakit DBD ini selalu ada di 35 kabupaten/kota se-Jateng. Kendati demikian, lanjut Arvian, Jateng mengalami kasus penurunan DBD yang cukup signifikan pada tahun 2023.
“Di tahun 2022, kasus DBD itu mencapai 12.476 kasus, sementara di tahun 2023 itu turun menjadi 6.133 kasus. Jadi ada pengurangan hampir setengahnya atau 50 persen,” terangnya.
BACA JUGA: Semarang Jadi Salah Satu Pilot Project, Peneliti UGM Tegaskan Nyamuk Wolbachia Efektif Tangani DBD
Selain itu, angka kematian akibat DBD juga menurun signifikan. Pada tahun 2022, tercatat ada 260 kematian akibat penyakit tersebut. Sementara jumlah itu berkurang menjadi 131 orang di tahun 2023.
Penurunan kasus ini, bagi Arvian tak lepas dari peran masyarakat sebagai pemeran utama. Sebab, tak ada pencegahan paling ampuh ketimbang gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) yang sebagian besar masyarakat lakukan.
Namun, Dinas Kesehatan Jateng menurutnya juga berperan penting dengan upaya ‘Gerakan Satu Rumah, Satu Jumantik’.
“Setiap rumah harus ada yang memantau tempat-tempat yang jadi breeding place (berkembang biak) nyamuk tadi. Tidak hanya di bak mandi dan ember, yang terlewat itu di dispenser, di kulkas. Bahkan di perkantoran dan sekolah itu potensi juga,” jelasnya.
Penyebab DBD yang sering diabaikan
Perihal penyebab DBD yang bisa merenggut korban jiwa, Arvian menyebut mengabaikan gejala awal menjadi penyebab utamanya.
“Gejala awal DBD mirip penyakit lain seperti flu, masuk angin, tipes. Karena gejala awal yang mirip, orang sering mengabaikan. Padahal yang kaya gini harus segera ditangani, tidak bisa ditangani sendiri, harus ada pelayanan minimal puskesmas,” paparnya.
BACA JUGA: Wajib Tahu! Ciri-Ciri Nyamuk Berbahaya yang Penyebab DBD
Lebih lanjut, masyarakat tak boleh hanya mengandalkan fogging saat ada penemuan kasus DBD di suatu daerah. Sebab, tingkat kewaspadaan mesti ada melalui pencegahan 3M. Terlebih, menurut Arvian, fogging tak terlalu efektif karena adanya efek samping yang berbahaya, utamanya bagi pernapasan.
“Harapan kita kasus DBD selalu menurun, tapi sebenarnya memang ada siklus lima tahunan, kalau dulu setiap lima tahun pasti naik. Akhir-akhir ini pola itu sudah berubah. Sekarang tinggal kemauan masyarakat melakukan gerakan membasmi sarang nyamuk itu,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





