Jateng

Ironi Provinsi Jateng, Dapat Julukan Lumbung Padi Tapi Tak Bisa Tentukan Harga Beras Sendiri

×

Ironi Provinsi Jateng, Dapat Julukan Lumbung Padi Tapi Tak Bisa Tentukan Harga Beras Sendiri

Sebarkan artikel ini
lumbung padi Jateng
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro, Esther Sri Astuti di Novotel Semarang, Jumat 14 Juli 2023. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Provinsi Jawa Tengah termasuk salah satu penghasil beras terbesar se-Indonesia. Mengutip data, Jateng lumbung padi dan berhasil menduduki posisi kedua setelah Jawa Timur. Yakni dengan potensi produksi padi sebesar 3.887,54 ribu ton selama periode Januari-April 2023.

Tak heran, provinsi ini mendapat julukan Jateng lumbung padi. Namun, julukan tersebut tak lantas membuat Jateng mampu mengontrol harga beras di pasaran.

Menanggapi hal ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip, Esther Sri Astuti angkat bicara. Ia menilai, Jateng perlu membenahi sisi perdagangan, khususnya dalam produksi beras.

“Saya rasa untuk provinsi Jawa Tengah itu untuk mempertahankan harga sudah bagus. Tapi misal untuk kasus beras ya, beras kan Jateng lumbung padi, tetapi harganya itu tidak bisa mengontrol. Jateng tidak bisa mengontrol harga,” ucap Esther kepada beritajateng.tv di Novotel Semarang, Jumat, 14 Juli 2023.

BACA JUGA: Panen Raya 614.946 Ton Padi, Kabupaten Demak Salah Satu Penyangga Pangan Nasional

Ia mengatakan, begitu musim panen tiba, beras-beras tersebut langsung diangkut ke Ibu Kota. Hal itulah yang ia soroti. Sebab, Jateng tak bisa menjadi provinsi yang berhak menentukan harga meskipun dapat memproduksi beras.

“Pada saat panen, itu begitu panen sudah ada truk-truk ya yang mengangkut ke Jakarta. Jadi harga itu penentunya Jakarta, dari konsumen, dari buyer-buyer beras yang di Jawa Tengah,” tegasnya.

“Harusnya sebagai produsen kan harus menjadi price control, ini malah jadi price followers, karena apa? Ya itu tadi. Kejadian kaya misalnya sudah begitu panen langsung angkut ke Jakarta,” imbuh Esther.

Jateng lumbung padi, perlu ada tempat menampung hasil produksi

Alih-alih langsung didistribusikan ke Jakarta, Esther meminta pemerintah untuk menampung hasil produksi padi yang sangat besar dari Jateng.

Program Director Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) tersebut menyebut peran pemerintah sebagai warehouse financing atau pembiayaan gudang menjadi langkah terbaik.

“Harusnya pemerintah daerah gitu bisa menjadi warehouse financing. Jadi, lumbung-lumbung menyerap dari padi-padi itu. Sehingga ketika panen, dia bisa jadi price control, tidak hanya price control di Jateng saja tapi ya nasional. Karena kan produsen padi. Salah satunya seperti itulah,” sambungnya.

BACA JUGA: Pemkot Berupaya Tingkatkan Produksi Padi di Kota Semarang

Sementara itu, Esther mengungkap kondisi pasar dalam negeri secara keseluruhan menurutnya cukup stabil. Dengan catatan, terdapat komoditas yang stabil pada rentang harga tinggi.

“Ya relatif stabil ya, tetapi ada beberapa komoditas yang stabil diatas. tidak stabil dibawah. Kalau dulu kan misalnya harga telur ya, dia stabil Rp 30 ribu, sementara untuk minyak goreng stabil, sudah naik, sudah nggak bisa turun,” ucapnya.

Menurutnya, untuk dapat membuat harga turun kembali harus ada campur tangan kuat dari pemerintah pusat.

“Tentunya pemerintah pusat harus bisa membuat suatu kebijakan. Apakah itu subsidi atau shock-shock variable lah dari kebijakan, yang bisa membuat harga itu turun stabil ke bawah,” pungkasnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp