SEMARANG, beritajateng.tv – Kontroversi alumnus beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, terus bergulir dan meluas ke ranah keluarga, kali ini, sorotan publik tertuju pada sosok mertuanya, Syukur Iwantoro.
Syukur Iwantoro diketahui pernah menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sejumlah kasus dugaan korupsi.
Isu ini mencuat setelah warganet mengulik latar belakang keluarga Dwi Sasetyaningtyas, menyusul narasi “hidup susah” yang sempat ia sampaikan ke publik.
BACA JUGA: Arya Iwantoro, Suami Dwi Sasetyaningtyas Netizen Kuliti, Ternyata Lulusan ITB Tinggal di Inggris
Penelusuran tersebut ramai jadi perbincangan di media sosial, terutama setelah sebuah unggahan di Threads mengungkap bahwa ayah mertua Tyas merupakan mantan pejabat tinggi di Kementerian Pertanian (Kementan).
Profil Syukur Iwantoro, Mertua Dwi Sasetyaningtyas
Syukur Iwantoro bukanlah nama asing di lingkungan birokrasi pertanian nasional. Pria kelahiran Situbondo, 30 Mei 1959 ini, dikenal sebagai birokrat senior dengan rekam jejak panjang di Kementan.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), lalu melanjutkan studi magister Perencanaan Wilayah dan Perdesaan di kampus yang sama.
Tak berhenti di situ, Syukur juga menempuh pendidikan MBA Agribisnis di Inggris pada tahun 1994.
Karier Syukur di Kementan mulai dari posisi staf di Biro Kerja Sama Luar Negeri. Dengan pengalaman dan latar belakang akademik yang kuat, ia perlahan naik jabatan dan menduduki berbagai posisi strategis.
Sejumlah jabatan penting pernah ia emban, mulai dari Kepala Subbagian Kebijakan Subsidi dan Harga di Biro Perencanaan, Kepala Bagian Program Badan Agribisnis, Direktur Pengembangan Mutu Hasil Pertanian, hingga Kepala Pusat Standardisasi dan Akreditasi Pertanian.
Puncak kariernya terjadi pada 2011 ketika Syukur Iwantoro diangkat sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan. Jabatan tersebut ia pegang hingga 2015, sebelum kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian.
Catatan perjalanan kariernya menunjukkan bahwa Syukur termasuk figur sentral dalam pengambilan kebijakan strategis sektor pertanian nasional.





