JAKARTA, beritajateng.tv – Mantan Menteri Perdagangan RI, Thomas Trikasih Lembong, atau lebih dikenal dengan Tom Lembong, mengungkap sisi lain dari dirinya yang jarang diketahui publik.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo yang tayang baru-baru ini, Tom menceritakan masa kecilnya yang penuh tantangan, termasuk pengalaman pahit sebagai korban bullying.
“Saya dari dulu anak yang kecil, kurus, lemah, dan sangat tidak atletis. Bahkan sejak muda saya sudah pakai kacamata tebal,” ungkap Tom sambil bercanda ringan namun tetap serius mengenang masa lalunya.
Tom mengakui bahwa saat duduk di bangku SMP di Jakarta, ia sempat menjadi korban bully. Ia tidak bisa melawan secara fisik karena merasa terlalu lemah dan tidak memiliki teman atau geng yang bisa membelanya.
“Enggak mungkin saya ngelawan karena saya kurus banget dan penyendiri. Tidak populer juga,” katanya.
Tetap Tenang Meski Ditekan
Pengalaman masa kecil ini tampaknya membentuk kepribadian Tom di masa dewasa. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang, bahkan ketika menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM.
BACA JUGA: Tom Lembong Akui Menyesal Pernah Jadi Bagian dari Pemerintah Jokowi, Begini Katanya
Salah satu koleganya di kementerian pernah mengungkapkan kekaguman karena tidak pernah melihat Tom marah selama satu tahun menjabat.
“Setahun Pak Tom di Kementerian Perdagangan, kita enggak pernah lihat sisi marahnya,” ujar seorang pejabat kementerian, seperti yang Tom Lembong ceritakan dalam podcast tersebut.
Ia menambahkan, jika sedang kelelahan atau stres, paling jauh hanya intonasi suaranya yang sedikit naik. “Tapi tidak pernah sampai marah-marah atau emosional,” katanya.
Cerita Tentang Keluarga
Tom juga membuka diri soal keluarganya. Ia memiliki dua anak yang kini tinggal di Inggris. Keduanya, kata Tom, memiliki karakter berbeda dalam mengekspresikan emosi.
“Talya lebih ekspresif dan terbuka, sementara Max lebih tertutup, mungkin mirip saya,” ujarnya.
BACA JUGA: Gibran Sebut Tom Lembong Beri Contekan ke Cak Imin Saat Debat Cawapres, Siapakah ia?
Meski berbeda cara memproses emosi, Tom menilai semua anak, termasuk anak-anak dari para tahanan yang pernah bersamanya di rumah tahanan pasti mengalami gejolak batin saat orang tuanya harus menghadapi proses hukum.
“Saya di rutan bersama 13 tahanan lain, dan mereka juga punya anak-anak, ada yang masih kecil, bahkan masih usia 6–8 tahun, sampai remaja. Mereka semua juga ikut merasakan dampaknya,” tuturnya. (*)





