“Awalnya masih berada di bawah kedutaan Belanda, baru tahun 1994 untuk pengelolaannya mereka serahkan ke Widya Mitra, bersama dengan kegiatan kursus dan budaya yang saat itu diselenggarakan Widya Mitra,” jelasnya.
Hanya saja, kondisi perpustakaan saat ini sudah sangat sepi. Tak banyak anak muda Semarang yang mengetahui keberadaan perpustakaan tersebut.
Namun, Meity mengaku bahwa perpustakaan ini masih terbuka untuk masyarakat umum. Ia juga menambahkan, semua buku di tempat buku berbahasa Belanda ini dapat semua pihak akses dan pinjam.
BACA JUGA:Microlibrary Warak Kayu Semarang, Perpustakaan Unik yang Eco-Friendly
“Kami berharap masyarakat lebih tau perpustakaan Widya Mitra secara khusus dan secara umum. Koleksi kami tidak hanya berbahasa Belanda tapi juga ada buku-buku umum walau memang tidak selengkap perpustakaan pada umumnya,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





