Luthfi menjabat Kapolda Jawa Tengah sejak 8 Mei 2020. Itu berarti sudah 4 tahun lebih menempati posisinya tanpa ada rotasi. Stigma sebagai orang dekat Presiden Jokowi bisa memberikan keuntungan baginya.
Pelantikan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian menguatkan dugaan untuk memberikan jalan bagi Luthfi maju Pilgub.
Masalahnya, antara Kaesang dan Luthfi, siapa yang bakal paling mendapatkan ‘Jokowi Effect’. Dengan posisi Kaesang sebagai putra Jokowi, tentu mudah menjawabnya.
Pengamat politik dan Founder Lembaga Survey Kedai Kopi, Hendri Satrio mengatakan, munculnya nama Kaesang bisa menyulitkan langkah Ahmad Luthfi. Sebab perdebatan tentang siapa yang akan menjadi Calon Gubernur (jika keduanya berpasangan) bisa sangat alot.
Mungkinkah partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) berkompromi untuk mengajukan satu nama? Jika keduanya maju dan berhadapan, posisi Luthfi bisa tak menguntungkan.
Meski begitu, peluang Luthfi maju masih cukup besar. Sejauh ini, sudah ada 3 partai yang mempertimbangkan namanya. Ada PAN, Golkar, dan Partai Gerindra.
Nama berikutnya yang cukup kuat adalah Taj Yasin Maimoen. Menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah selama 5 tahun membuat Taj Yasin memiliki modal sosial yang tinggi.
Terlebih di kalangan kaum agamis dan santri. Putra ulama terkenal, almarhum KH Maimoen Zubeir ini baru saja meraih 3,8 juta suara dalam Pemilu DPD RI. Menempatkannya sebagai peraih suara tertinggi Calon DPD RI asal Jawa Tengah.
Apakah Gus Yasin bakal maju Pilgub? Mungkinkah pencalonannya dalam perebutan kursi DPD RI lalu hanya pemanasan menuju kontestasi politik yang lebih besar? Yang jelas, baliho Ahmad Luthfi dan Gus Yasin juga sudah banyak terpasang.


