Terakhir, nama Dico Ganinduto mendapatkan angka yang cukup lumayan. Namun belum lama ini Dico banting setir mencalonkan diri di Pilwalkot Semarang.
Langkah tersebut ia lakukan setelah ada pertemuan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
Bupati Kendal tersebut mengaku mendapat tugas baru dari partainya untuk maju Pilwalkot Semarang. Surat tugas untuk maju Pilgub Jawa Tengah dan Pilbup Kendal sebelumnya otomatis gugur.
Seiring tugas baru tersebut, terpasang baliho Dico sebagai Bakal Calon Walikota Semarang, menggantikan baliho sebelumnya sebagai Bakal Calon Gubernur Jawa Tengah.
Jika kita lihat, strategi Dico ini hampir mirip-mirip yang Kaesang terapkan. Membranding diri di lebih dari satu tempat. Nama Kaesang muncul di Depok, Surabaya, DKI Jakarta, hingga Jawa Tengah. Sedangkan nama Dico mengemuka pada Pilbup Kendal, Pilgub Jawa Tengah, hingga Pilwalkot Semarang.
Padahal bila boleh mencermati, karakteristik dan permasalahan tiap daerah jelas berbeda. Karena itu membutuhkan solusi dan sentuhan kepemimpinan yang berbeda juga.
Mungkinkah seorang calon kepala daerah cocok dan cakap memimpin di berbagai daerah? Ataukah ini hanya soal opportunity, memanfatkan peluang pencalonan yang ada saja?
Apapun itu, mendekati masa pendaftaran calon pada akhir Agustus nanti, kejutan bakal sering muncul. Membaca situasi politik jelang Pilkada 2024, layak rasanya kita menyebut salah satu falsafah Jawa, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan”.
Dulu siapa yang mengira Presiden Jokowi bakal pisah jalan dengan PDIP dan berhadap-hadapan saat Pilpres 2024? Siapa juga yang menyangka Jokowi bisa membangun aliansi dengan Prabowo, lawan politiknya dalam dua kali Pilpres? (*)
Ricky Fitriyanto
Pemimpin Redaksi beritajateng.tv


