Sebagian pekerjaan tersebut sudah selesai, sementara lainnya masih berjalan dan dalam tahap verifikasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL). Tavares mengatakan setiap lokasi harus memiliki koordinat yang jelas, foto open camera, hingga data poligon agar pembangunan tepat sasaran.
Di sisi lain, kondisi jaringan irigasi Jawa Tengah masih menjadi tantangan. Sekitar 52 persen saluran irigasi disebut masih berupa tanah dan belum permanen.
“Kalau hitung panjangnya, itu kira-kira mencapai 13 juta meter,” ujarnya.
BACA JUGA: Pemprov Jateng Usulkan Pemekaran Brebes Selatan, Efektifkan Layanan Publik Jadi Alasan Utama
Tavares membenarkan, keterbatasan anggaran membuat perbaikan jaringan irigasi tidak bisa terlaksana sekaligus. Ia menilai pembangunan jaringan irigasi juga harus di sinkronkan dengan kondisi jaringan primer dan sekunder yang menjadi kewenangan PU maupun BBWS.
“Percuma kita bangun jaringan irigasi tersier kalau saluran sekunder dan primer dari PU atau BBWS airnya tidak ada,” katanya.
Sebab itu, Dinas Pertanian dan Peternakan memprioritaskan pembangunan pada lokasi yang sumber airnya sudah terpastikan tersedia.
“Jadi, kita memprioritaskan perbaikan pada lokasi yang ketersediaan sumber airnya sudah pasti,” terang Tavares.
Untuk pembiayaan, Pemprov Jawa Tengah mengalokasikan APBD untuk 334 unit jaringan irigasi tersier. Selain itu, pemerintah pusat melalui APBN juga memberikan alokasi untuk pengerjaan yang jumlahnya mencapai ribuan unit.
“Nilainya bervariasi tergantung panjang irigasinya, mungkin rata-rata sekitar Rp100 juta per unit. Saat ini, proses pelaksanaannya secara keseluruhan kurang lebih sudah mencapai sekitar 30 persen,” jelasnya.
Anggaran Pertanian Jateng Justru Naik, Prioritas Amankan Masa Tanam dan Panen
Di tengah ancaman kekeringan, Tavares memastikan anggaran sektor pertanian Jawa Tengah tidak ikut terdampak efisiensi anggaran. Ia menuturkan, anggaran justru mengalami peningkatan karena sektor pangan menjadi salah satu prioritas.
“Justru anggarannya malah meningkat, tidak terdampak efisiensi karena sektor pangan itu sangat urgen. Jawa Tengah ini kan lumbung pangan nomor dua di Indonesia,” kata Tavares.





