SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah mengkhawatirkan produksi padi di wilayahnya turun lebih dari 4 persen jika kemarau ekstrem berlangsung dalam waktu lama.
Kekhawatiran tersebut muncul lantaran panas ekstrem dinilai dapat membuat lahan pertanian lebih cepat kering, terutama pada sawah yang masih mengandalkan air hujan.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya produksi padi Jawa Tengah sudah mengalami penurunan sekitar 4-5 persen akibat kombinasi kekeringan, banjir, hingga serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Menurutnya, kondisi kemarau tahun ini perlu terwaspadai karena persoalannya bukan hanya mengenai panjangnya musim kemarau, tetapi juga tingginya suhu.
Hal tersebut Tavares ungkap saat beritajateng.tv jumpai di Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa, 11 Agustus 2026 sore.
“Kekeringan tahun ini sebetulnya bukan masalah panjang atau lamanya kemarau, tapi masalah panas atau teriknya. Dalam waktu singkat saja, suhu panas ekstrem langsung membuat tanah retak dan kering kerontang,” ujar Tavares.
Ia berharap musim hujan dapat segera datang sehingga dampak kekeringan terhadap pertanian tidak semakin meluas.
“Mudah-mudahan kemaraunya tidak panjang dan maksimal di bulan Oktober sudah turun hujan,” katanya.
Tavares mengatakan, apabila kemarau ekstrem berlangsung lama, penurunan produksi padi di Jawa Tengah berpotensi lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.
“Tentu masih memengaruhi. Pada tahun-tahun sebelumnya, gabungan dampak dari kekeringan, banjir, hingga serangan OPT itu membuat penurunan produksi padi sekitar 4 sampai 5 persen. Tapi kalau kemarau ekstrem tahun ini berlangsung lama, saya juga khawatir penurunannya bisa lebih dari itu,” tuturnya.
26 Persen Sawah Jateng Tadah Hujan, Grobogan dan Wonogiri Paling Banyak
Salah satu tantangan menghadapi musim kemarau berada pada lahan sawah yang masih bergantung terhadap curah hujan. Tavares menyebut sekitar 26 persen lahan sawah di Jawa Tengah merupakan lahan tadah hujan. Sementara 74 persen lainnya merupakan lahan irigasi.
Adapun total luas baku lahan sawah Jawa Tengah mencapai sekitar 970.000 hektare.





