Pendidikan

Kembangkan Alat Deteksi Penyakit Mata, Siswi SMAN 3 Semarang Raih Juara 3 Kontes Saintek di China

×

Kembangkan Alat Deteksi Penyakit Mata, Siswi SMAN 3 Semarang Raih Juara 3 Kontes Saintek di China

Sebarkan artikel ini
Alat Mata
Kayla Lalita Putri dan Farah Azra Bramantya saat menjuarai China Adolescent Science and Technology Contest 2024. (Foto: Dok Pribadi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Siswa SMAN 3 Semarang kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional.

Kali ini, giliran Kayla Lalita Putri dan Farah Azra Bramantya. Kedua siswa kelas 11 itu berhasil membawa pulang medali perunggu dalam kejuaraan China Adolescent Science and Technology Contest 2024.

Dalam kejuaraan bergengsi yang telah berlangsung selama 40 tahun itu, Kayla dan Farah mewakili Indonesia dengan proyek “AI Based Iris Recognition System for Disease Identification”.

“Kami membuat alat yang berbasis kamera AI dan bisa mendeteksi 6 penyakit mata,” jelas Kayla saat beritajateng.tv temui di sekolahnya, Kamis, 24 Oktober 2024.

BACA JUGA: Menteri Pendidikan Baru Bakal Evaluasi Pengadaan Kembali UN, Ini Kata Pelajar di Semarang

Kayla menjelaskan, cara kerja alat itu adalah dengan memindai mata. Kemudian, alat itu akan mendeteksi ciri-ciri dan menentukan penyakit apa yang berada di mata.

Uniknya, alat tersebut juga terhubung dengan aplikasi yang bisa diakses melalui perangkat Android.

“Kenapa memilih mata, karena kami lihat masih sedikit yang membuat riset mengenai penyakit mata. Selain susah dicek, mata juga sangat riskan karena memiliki motif yang beragam,” bebernya.

Mampu bersaing dengan China dan Korea

Lebih lanjut, Farah menyampaikan, terdapat sejumlah kesulitan dalam mengembangkan alat ini. Misalnya, proses memindai yang masih bergantung pada gambar.

“Karena nyari orang yang memiliki penyakit mata masih susah apalagi di Indonesia, jadi untuk sampel yang kami gunakan gambar yang kami ambil dari internet,” kata Farah.

Kendala kedua, kata Farah, alat yang pihaknya gunakan masih sering eror, seperti memorinya hilang, sehingga perlu memindai ulang.

Selain itu, alat tersebut  juga belum mampu mendeteksi penyakit mata dengan sesuai. Namun, ia memastikan bahwa akurasi alat ini masih memungkinkan untuk peningkatan lagi.

BACA JUGA: Warganet Tuduh Murid Banyak Tak Tahu dan Susah Baca Gegara Kurikulum Merdeka, Ini Kata Pengamat

Kendati demikian, alat yang memakan waktu pengerjaan hingga tiga bulan itu dapat mengalahkan pesaing lainnya yang berasal dari 21 negara di Asia, Afrika, Amerika Selatan, Oceania, hingga Eropa.

“Enggak nyangka, sih, lumayan kaget, karena inovasi negara lain lebih maju. Ada juga pihak China yang tekonologinya lumayan maju, jadi awalnya pesimis,” ucap Farah.

Kayla menambahkan, pesaing terberat berasal dari China dan Korea. Sebab, kedua negara tersebut terkenal akan kemajuan teknologinya yang pesat.

“Harapannya kami bisa mengembangkan alat ini dan kami bisa menyebarkannya untuk rumah sakit-rumah sakit yang terkendala jarak untuk mendeteksi penyakit mata,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp