SEMARANG, beritajateng.tv – Penampilan wayang orang dalam ‘Wayang on The Street’ meramaikan Festival Kota Lama di Oudetrap Open Theatre Kota Lama Semarang, Jumat, 8 September 2023. Pada kesempatan ini, mereka menampilkan lakon yang berjudul Bagong Rabi.
Puluhan masyarakat dari lintas generasi terlihat memadati pelataran Oudetrap. Bahkan, tak hanya orang tua, banyak anak muda yang kemudian tertarik menonton pementasan wayang orang itu.
Ditemui usai pertunjukkan, Agus Suryono, Ketua Festival Kota Lama menjelaskan bahwa pementasan wayang orang merupakan salah satu rangkaian Festival Kota Lama yang telah diadakan sejak beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, terpilihnya wayang orang masuk ke dalam rangkaian kegiatan sebab merupakan salah satu budaya yang harus terus dilestarikan kepada generasi muda.
“Festival Kota Lama itu kan dalam rangka pelestarian cagar budaya, di antaranya ya wayang orang. Pelestarian budaya itu aktualisasi ke depannya bagaimana generasi muda mengenal, salah satunya melalui acara di sini, supaya pelestarian budaya tidak terputus,” katanya kepada beritajateng.tv, Jumat, 8 September 2023.
Terlebih, lanjut Agus, Gedung Oudetrap yang ada di kawasan Kota Lama sangat mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya. Melalui Festival Kota Lama, Agus berharap gairah kebudayaan di Kota Semarang dapat terus terjaga.
“Kota Lama ini merupakan suatu daya tarik tersendiri. Jadi ketika masyarakat datang ke kawasan Kota Lama, mereka bisa langsung dapat beberapa hiburan, salah satunya wayang orang ini,” lanjutnya.
Sensasi pentas wayang orang yang berbeda di Semarang
Penampilan Wayang on The Street malam ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, Wayang on The Street telah rutin tampil sejak bulan Maret dalam rangkaian acara road to Festival Kota Lama.
Wiradiyo, pemain wayang orang dari Ngesti Pandawa mengaku senang dapat tampil pada ajang Wayang on The Street Festival Kota Lama Semarang tahun ini. Menurutnya, terdapat sensasi yang berbeda saat tampil di ruang terbuka dan tampil di gedung teater.
“Kalau di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) kan tampil di panggung, ini di luar, pastinya ada perbedaan, jaraknya penonton deket, terus suasana pementasan juga berbeda, kalau di sini lebih meriah,” ucapnya.
BACA JUGA: Gelar Diskusi, Kotta Soroti Kehadiran TBRS Sebagai Ruang Publik
Wiradiyo menjelaskan, Ngesti Pandawa memang rutin melakukan pementasan di TBRS tiap minggunya. Oleh sebab itu, kebanyakan pemain merupakan wayang orang profesional yang memiliki jam terbang yang tinggi.
Ia berharap, kegiatan budaya semacam ini dapat terus terlaksana untuk kembali mengenalkan wayang orang kepada generasi muda.
“Acara seperti ini bagus untuk meningkatkan pamor wayang orang itu juga. Jadi selain tampil rutin di TBRS bisa tampil di luar seperti ini,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





