Kuliner

Kini Malah Sulit Ditemukan, Ini Alasan Warung Burjo Masih Pertahankan Menu Bubur Kacang Hijau

×

Kini Malah Sulit Ditemukan, Ini Alasan Warung Burjo Masih Pertahankan Menu Bubur Kacang Hijau

Sebarkan artikel ini
bubur kacang hijau
Hendri, pemilik Burjo Gemilang di Jalan Wonodri Baru Nomor 4, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang saat menyiapkan bubur kacang hijau. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tidak seperti namanya, menu bubur kacang hijau (burjo) kini malah sulit ditemukan di warung burjo. Kebanyakan warung burjo di Semarang, khususnya di sekitar area kampus, tak lagi menyediakan menu burjo lantaran semakin sedikit peminatnya.

Hal tersebut diakui oleh Hendri, pemilik Burjo Gemilang di Jalan Wonodri Baru Nomor 4, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Menurutnya, kebanyakan pengunjung yang berasal dari mahasiswa menjadikan warung burjo tak lagi menjual bubur kacang hijau.

Alasannya, kata Hendri, mayoritas mahasiswa tidak gemar mengonsumsi bubur kacang hijau.

BACA JUGA: Serupa Tapi Tak Sama, Begini Kisah Burjo dan Warmindo Jadi Jujugan Anak Kos, Sama-Sama Buka 24 Jam!

“Burjo di Semarang banyak banget, apalagi di sekitar Tembalang, tiap gang pasti ada burjo. Tapi belum tentu semua burjo itu ada kacang ijo. Ya itu tadi, kalau anak kampus biasanya cari yang penting murah meriah tapi kenyang,” ujar Hendri kepada beritajateng.tv, Selasa, 14 November 2023.

Hendri menyebut, mahasiswa paling banyak membeli menu olahan nasi. Mulai dari nasi ayam Bali, nasi ayam Bali crispy, nasi orak-arik, dan lainnya.

BACA JUGA: Top 4 Burjo Enak di Semarang, Murah dan Hemat di Kantong Kamu!

Alasan pengunjung lebih pilih menu nasi ketimbang bubur kacang hijau

Menurutnya, harga antara menu nasi dan bubur kacang ijo yang tak beda jauh menjadikan pengunjung lebih memilih menu nasi. Sebut saja satu porsi bubur kacang ijo harganya terpatok Rp7 ribu. Itu hanya selisih sedikit daripada menu olahan nasi yang harganya mulai dari Rp10 ribu.

Meski begitu, Hendri yang telah lebih dari 10 tahun berkecimpung di warung burjo itu masih tetap konsisten mempertahankan menu bubur kacang ijo di warungnya.

“Tapi saya tetap pertahankan, soalnya juga masih ada yang sering nyari juga. Kebanyakan orang-orang tua masih nyari bubur kacang hijau,” katanya.

BACA JUGA: Mengunjungi Kedai Tarik Pa’Ngah, Kopitiam Anyar khas Melayu-Kalimantan di Kota Semarang

Di sisi lain, Hendri tentu tak bisa menyalahkan banyaknya warung burjo yang kemudian memilih untuk tidak menjajakan bubur kacang ijo. Hanya saja, ia sedikit menyayangkan ‘menghilangnya’ eksistensi bubur kacang ijo di warung-warung burjo.

Apalagi, salah satu tanda warung burjo itu asli dari bumi Pasundan adalah kehadiran bubur kacang hijau itu.

“Bubur kacang ijo itu bisa dibilang ciri khasnya warung burjo. Kalau nggak ada bubur kacang ijo pasti bukan asli Sunda. Apalagi sekarang gampang bikin warung-warung ala burjo asal punya modal,” tandas Hendri. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp