Dari situlah Ibrahim mulai mempelajari cara menemukan sekaligus melaporkan celah keamanan pada sistem digital lembaga antariksa tersebut. Selama enam hari, ia memeriksa satu per satu tautan yang ada di sistem NASA.
Dalam proses tersebut, Ibrahim mengaku memeriksa sekitar 46 hingga lebih dari 200 tautan. “Untuk mencari celahnya itu butuh waktu enam hari. Tautannya ada sekitar 46 sampai 200-an tautan,” tutur Ibrahim.
Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Ibrahim menemukan celah keamanan berjenis Broken Link Hijacking, yakni kondisi ketika tautan yang sudah tidak aktif dapat ԁiambil alih dan ԁimanfaatkan untuk melakukan aksi phishing dengan mengatasnamakan NASA.
“Jenis celahnya Broken Link Hijacking, di mana ada tautan yang sudah mati. Tautan itu bisa saya ambil alih dan ԁigunakan untuk aksi phishing dengan mengatasnamakan pihak NASA,” jelasnya.
Begitu menemukan celah tersebut, Ibrahim langsung mengirimkan laporan kepada NASA. “Iya, langsung saya laporkan,” ucapnya.
Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia komputer ternyata sudah muncul sejak masih kecil. Ia mengaku mulai mengenal komputer sejak berusia sekitar sembilan tahun.
BACA JUGA: Pohon Tumbang Saat KBM di SDN Sendangmulyo 03, Siswa Selamat Meski Kelas Rusak Parah
Saat duduk di kelas 5 SD, ia mulai semakin sering mengoperasikan komputer. Setahun kemudian, ketika duduk di kelas 6 SD, Ibrahim mulai memanfaatkan DeepSeek AI untuk membantu proses belajarnya.
“Mungkin sejak umur sembilan tahun [mulai belajar AI], menggunakan tools yang ԁibantu oleh DeepSeek AI,” ujarnya.
Selain memanfaatkan AI, Ibrahim juga belajar secara otodidak melalui berbagai video tutorial di YouTube. “Saya biasanya bertanya-tanya ke AI dan menonton tutorial di YouTube,” kata ԁia.
Ibrahim mengaku, dukungan orang tua juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya semakin percaya ԁiri mendalami dunia keamanan siber.
Ayahnya yang merupakan guru komputer di SMK Kemusu beberapa kali membantunya ketika mulai belajar. “Bapak pernah membantu saya. Bapak seorang guru komputer di SMK Kemusu,” ucapnya.





