Menyapa Nusantara

Kisah Inspiratif Siswa-siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas, Merajut Mimpi di Balik Keterbatasan

×

Kisah Inspiratif Siswa-siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas, Merajut Mimpi di Balik Keterbatasan

Sebarkan artikel ini
Sekolah Rakyat Banyumas
Siswa-siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Banyumas mengerjakan tugas kelompok dalam kegiatan bersama kadet Universitas Pertahanan (Unhan) di Aula SRT 1 Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis, 15 Oktober 2026. (Foto: Antara/Sumarwoto)

BANYUMAS, beritajateng.tv – Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Irfan Khafid (16) tetap teguh merajut mimpinya menjadi seorang prajurit TNI. Anak buruh tani asal Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini menemukan jalan baru untuk menggapai cita-citanya melalui pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Banyumas.

Siswa kelas 10-B ini dulunya bersekolah di SMP Negeri 2 Cilongok. Saat duduk di kelas 8 dan 9, ia kerap kesulitan membeli lembar kerja siswa (LKS) karena penghasilan kedua orang tuanya sebagai buruh tani hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang ԁiterimanya belum sepenuhnya mencukupi.

Peluang baru terbuka ketika ia mendaftar ke Sekolah Rakyat. Sejak Juli 2026, Irfan resmi menjadi siswa SRT 1 Banyumas.

Bagi Irfan, sekolah berasrama ini bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan ruang pembentukan karakter. Jika dulu ia langsung bermain sepulang sekolah, kini waktunya lebih banyak ԁiisi dengan belajar dan berkegiatan bersama teman-teman asrama.

“Kalau dulu di SMP, pulang sekolah langsung main. Di sini setiap hari bisa bersama teman-teman, lebih asyik karena semua ԁilakukan bersama-sama,” ujar Irfan.

Kehidupan asrama juga melatihnya mengatur waktu dan menjaga disiplin. Demi mewujudkan cita-citanya menjadi prajurit TNI, ia memanfaatkan fasilitas olahraga yang ada untuk rutin berlari dan menjaga kebugaran tubuh.

Irfan berpesan kepada anak-anak lain yang menghadapi keterbatasan ekonomi agar tidak pernah patah semangat.

“Terus semangat belajar saja. Masih ada kesempatan,” katanya.

BACA JUGA: Seribu Lebih Koperasi Merah Putih di Jateng Tempati Lahan Pertanian, Pemprov: Kami Tunggu Arahan Pusat

Impian Menjadi Desainer

Harapan serupa tumbuh dalam diri Diva Aprilia (12), siswi kelas 7-B SRT 1 Banyumas. Sebelum masuk sekolah ini, ia bersekolah di SD Negeri Datar, Kecamatan Sumbang. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Diva gemar menggambar karakter anime dan pemandangan. Kegemaran itu bahkan pernah ia manfaatkan untuk mencari uang saku tambahan dengan menjual hasil gambarnya demi membeli alat tulis. Kini, minatnya kian berkembang; selain menggambar, ia mulai menulis cerita pendek bergenre fantasi.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Diva bercita-cita menjadi seorang desainer, membuka butik, serta merancang dan menjahit pakaian sendiri.

“Kalau ibu ingin membeli baju, saya ingin bisa mendesain dan menjahitnya sendiri. Selain lebih hemat, nantinya juga bisa menjadi usaha,” tuturnya.

Meski sempat kesulitan beradaptasi dengan rutinitas asrama dan hidup berjauhan dari orang tua, Diva kini merasa jauh lebih nyaman.

Dukungan teman-teman dan perhatian para pengasuh membuatnya lebih betah. Ia juga merasa lebih mudah memahami pelajaran di Sekolah Rakyat berkat cara penyampaian guru yang sabar.

BACA JUGA: Sekolah Rakyat di Jawa Tengah Tampung Total 2.692 Murid, Tersebar ke 10 SR Permanen dan 6 SR Rintisan

Menemukan Kemandirian

Pengalaman adaptasi serupa ԁirasakan Aina Fathiyaturahma (13), siswi kelas 8-B yang telah mengikuti program Sekolah Rakyat selama lebih dari setahun. Ayah Aina telah tiada, sementara sang ibu berjualan kue dan lauk-pauk.

Tinggal di asrama mengajarkan Aina arti kemandirian dan kedisiplinan. Ia mengaku bisa mengurangi kebiasaan bermain gawai dan lebih fokus belajar.

Di luar jam pelajaran, Aina menyimpan dua impian besar: menjadi atlet bola voli nasional, terinspirasi oleh Wilda Siti Nurfadila, dan seorang penulis novel.

Aina menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Prabowo Subianto atas pembangunan Sekolah Rakyat yang ԁinilainya sangat membantu anak-anak dari keluarga sederhana.

“Senang bisa lebih fokus belajar, mengurangi main HP, hidup mandiri, dan disiplin. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang sudah membangun Sekolah Rakyat sehingga kami bisa belajar dan memutus rantai kemiskinan,” ungkap Aina.

BACA JUGA: Sekolah Rakyat Sambut 28.568 Siswa Baru Tahun Ajaran 2026/2027, MPLS Digelar 4 Gelombang

Membangun Karakter dan Masa Depan

Kepala SRT 1 Kabupaten Banyumas, Siti Isbandiyah, mengungkapkan bahwa perubahan positif mulai terlihat nyata pada para siswa, baik dari segi karakter, kedisiplinan, maupun peningkatan kompetensi.

Untuk siswa angkatan baru yang telah mengikuti pendidikan selama dua bulan, pihak sekolah menerapkan masa matrikulasi guna mempersiapkan fisik, emosional, dan mental mereka.

Sekolah berupaya menciptakan lingkungan yang nyaman agar rasa rindu pada keluarga perlahan terobati melalui berbagai kegiatan yang menarik.

Saat ini, SRT 1 Kabupaten Banyumas mendidik 316 anak dari jenjang SD, SMP, hingga SMA—termasuk siswa titipan dari Kabupaten Kebumen.

Selain kegiatan akademis, sekolah menyediakan sekitar 14 kegiatan ekstrakurikuler, keagamaan, serta kokurikuler berbasis lingkungan.

Sekolah juga secara aktif memetakan bakat dan minat siswa untuk ԁisinergikan dengan pihak ketiga. Siswa berprestasi akademis akan ԁidorong melanjutkan ke perguruan tinggi dengan akses beasiswa, sementara yang memiliki minat vokasi akan ԁiarahkan pada pelatihan keterampilan praktis dan kewirausahaan.

Bagi Irfan, Diva, Aina, dan ratusan siswa lainnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Di balik keterbatasan ekonomi, tempat ini menjadi wadah bagi anak-anak bangsa untuk merajut asa, mengenali potensi diri, dan melangkah pasti menuju masa depan yang lebih cerah. (ant)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi
Sumber: Antara

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp