Kendati begitu, tak mungkin berlari 150 kilometer tanpa kendala bagi Zainudin. Perutnya mulai merasa tak nyaman saat sampai Solo. “Asam lambung naik,” kata dia.
Terakhir kali Zainudin merasakan perut tak nyaman itu pada 2022 lalu, saat dirinya berlari dari Semarang ke Jakarta. Ia pun tak paham mengapa asam lambungnya kembali naik saat itu.
Namun, bagi Zainudin, mungkin ada makna lain di balik kondisi tersebut. Ia menganggapnya sebagai pertanda dari Tuhan agar dirinya tetap tabah dan sabar sampai di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.
“Terus ini enggak tahu kenapa asam lagunya naik lagi. Mungkin ini ujian dari Yang Kuasa harus tabah, sabar, dan kuat sampai di depan kantor Gubernur. Semoga bisa ԁidengarkan,” ucap Zainudin.
Jadi atlet lari karena dapat “wangsit” dari leluhur Gunung Lawu
Cuaca terik juga ikut menjadi tantangan yang Zainudin rasakan selama tiga hari berlari menuju Semarang. Ia mengaku tak ada angin maupun awan yang menaungi perjalanan mereka.
Lari panjang yang biasanya ia lakukan untuk kegiatan charity lebih sering ԁilakukannya pada malam hari. Kali ini, Zainudin justru harus menempuh sebagian besar perjalanan pada siang hari.
“Ya karena cuaca benar-benar panas, enggak ada angin, enggak ada awan. Biasanya kalau saya rest atau setiap latihan itu 100 kilometer, 50 kilometer, buat charity juga itu larinya malam, kalau lari siang itu baru kali ini,” akunya.
Sepanjang perjalanan, Zainudin dan dua pelari lainnya juga mendapat dukungan dari relawan maupun masyarakat yang mereka temui. Tak hanya memberi semangat, sejumlah warga bahkan memberikan makanan kepada para pelari secara estafet.
Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi Zainudin untuk terus melangkahkan kakinya hingga Semarang. Teriakan semangat yang ia dengar dari warga sepanjang perjalanan juga sama, yakni agar perjuangan mereka cepat ԁidengar oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.





