Ia mengakui industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga fluktuasi kurs berpotensi memengaruhi harga obat-obatan.
Meski demikian, Caraka menilai tenaga kesehatan tetap harus mencari solusi agar masyarakat tetap memperoleh akses pengobatan yang terjangkau.
“Kalau sebagai tenaga kesehatan, sebenarnya masalah bagaimana perputaran uangnya memang bukan kompetensi kami,” tuturnya.
Ia menilai, penggunaan obat generik dapat menjadi salah satu alternatif ketika harga obat mengalami kenaikan.
“Tapi kalau kami tidak bisa merubah kondisi apapun, ya berarti kami dapat menggunakan obat-obat generik atau obat-obat yang tidak paten sehingga harganya lebih murah,” jelasnya.
BACA JUGA: Aliansi Pati Bangkit Demo di Depan Pengadilan Tipikor Semarang, Tuntut Bebaskan Bupati Nonaktif Sudewo
Selain itu, Caraka juga menilai pengobatan tradisional yang telah teruji dapat menjadi pilihan pendamping dalam pelayanan kesehatan.
“Tapi bisa juga dengan menggunakan pengobatan alternatif, obat-obatan tradisional, sebenarnya begitu,” pungkas Caraka. (*)
Editor: Farah Nazila





