SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRD Jawa Tengah, Rabu, 17 Juni 2026 sore.
Di tengah kerumunan massa, seorang mahasiswa tampak mencuri perhatian karena masih mengenakan scrub atau pakaian jaga tenaga kesehatan berwarna ungu muda.
Mahasiswa tersebut bernama Caraka Adhika, koas Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) yang baru menyelesaikan jadwal jaga di RSUP Dr Kariadi Semarang sebelum bergabung dengan massa aksi. Caraka mengaku demonstrasi ini menjadi kali ketiga baginya.
“Saya di sini, sudah demo ketiga kalinya. Tujuannya tidak lain tidak bukan protes perihal aparat sudah bisa menduduki jabatan-jabatan sipil,” ujar Caraka saat beritajateng.tv jumpai di sela-sela aksi.
Kekhawatiran terhadap potensi kembalinya praktik dwifungsi ABRI menjadi salah satu alasan Caraka turun ke jalan. Dalam hematnya, kebijakan yang membuka ruang bagi aparat untuk menduduki jabatan sipil perlu mendapat perhatian serius.
“Padahal ketika aparat menduduki jabatan sipil, yang terjadi adalah seperti pada masa Orde Baru yaitu dwifungsi ABRI,” ujar Caraka.
BACA JUGA: Ibunda Cindy Rizap Bantah Anaknya Pelakor Suami Maissy Pramaisshela: Riky Pemain
Caraka menilai, jabatan sipil semestinya menjadi ruang bagi orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya masing-masing.
“Padahal aparat ini kan juga tidak berkompetensi dalam mengelola jabatan-jabatan kami. Jabatan-jabatan yang seharusnya dipegang oleh orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual,” lanjutnya.
Usai Jaga Koas, Caraka Langsung Merapat ke Lokasi Aksi
Caraka mengaku langsung menuju lokasi demonstrasi setelah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa pendidikan profesi dokter.
Saat ini, Caraka masih menjalani pendidikan profesi dokter atau koas di RSUP Dr Kariadi Semarang. Mahasiswa Undip tersebut juga mengaku tidak berangkat sendirian. Teman-temannya lebih dulu mengajak dirinya bergabung dalam aksi.
“Belum, saya masih mahasiswa pendidikan profesi, Koas di RSUP Dr Kariadi. Ada teman-teman yang diajak, justru malah saya yang diajak,” tutur dia.
Meski tengah menjalani pendidikan profesi yang menyita banyak waktu, Caraka tetap berusaha menyempatkan diri mengikuti aksi yang menurutnya menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Soroti Peluang Aparat Duduki Jabatan Sipil
Salah satu isu yang paling Caraka soroti dalam demonstrasi kali ini ialah pengesahan revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Regulasi tersebut membuka peluang bagi anggota kepolisian aktif untuk menduduki sejumlah jabatan sipil tanpa harus mengajukan pensiun dini.
Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di sektor kesehatan, Caraka mengaku khawatir apabila ruang profesional masyarakat sipil semakin menyempit.
“Iya, masalahnya itu,” ujarnya saat awak media menanyakan kemungkinan aparat masuk ke berbagai sektor sipil, termasuk kesehatan.
Menurut Caraka, aparat seharusnya tetap fokus menjalankan fungsi utama mereka sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Ia menilai jabatan sipil perlu menjadi ruang bagi individu yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya masing-masing.
Resah Harga BBM Naik, Caraka Singgung Prabowo Kunjungan Kerja ke Prancis
Selain menyoroti revisi UU Polri, Caraka juga mengaku resah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi belakangan ini.
Menurutnya, kondisi ekonomi global memang tengah mengalami ketidakpastian. Namun pemerintah tetap perlu memastikan kebijakan yang diambil tidak semakin membebani masyarakat.
Caraka menilai pemerintah perlu lebih cermat menentukan prioritas penggunaan anggaran negara di tengah kondisi ekonomi saat ini.
“Kalau untuk kenaikan BBM belakangan tentu resah. Kalau dilihat-lihat, anggaran yang dipakai untuk entah itu pergi ke luar negeri, nah itu sebenarnya bisa dipakai untuk subsidi BBM begitu,” papar Caraka.
Caraka menambahkan, mahasiswa juga membawa sejumlah tuntutan lain terkait efisiensi anggaran dan penggunaan APBN yang lebih tepat sasaran.
“Kalau untuk tuntutan lain itu misalnya efisiensi anggaran dan penggunaan APBN yang semestinya,” lanjut Caraka.
Pelemahan Rupiah Berpotensi Dorong Harga Obat
Sebagai calon dokter, Caraka juga menaruh perhatian terhadap dampak pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap sektor kesehatan.
Ia mengakui industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga fluktuasi kurs berpotensi memengaruhi harga obat-obatan.
Meski demikian, Caraka menilai tenaga kesehatan tetap harus mencari solusi agar masyarakat tetap memperoleh akses pengobatan yang terjangkau.
“Kalau sebagai tenaga kesehatan, sebenarnya masalah bagaimana perputaran uangnya memang bukan kompetensi kami,” tuturnya.
Ia menilai, penggunaan obat generik dapat menjadi salah satu alternatif ketika harga obat mengalami kenaikan.
“Tapi kalau kami tidak bisa merubah kondisi apapun, ya berarti kami dapat menggunakan obat-obat generik atau obat-obat yang tidak paten sehingga harganya lebih murah,” jelasnya.
BACA JUGA: Aliansi Pati Bangkit Demo di Depan Pengadilan Tipikor Semarang, Tuntut Bebaskan Bupati Nonaktif Sudewo
Selain itu, Caraka juga menilai pengobatan tradisional yang telah teruji dapat menjadi pilihan pendamping dalam pelayanan kesehatan.
“Tapi bisa juga dengan menggunakan pengobatan alternatif, obat-obatan tradisional, sebenarnya begitu,” pungkas Caraka. (*)
Editor: Farah Nazila





