SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah telah mengembangkan BRT Trans Jateng di 7 (tujuh) koridor. Adapun koridor itu memiliki 112 bus yang beroperasi, yakni Semarang-Bawen, Purwokerto-Purbalingga, Magelang-Purworejo, Semarang-Kendal, Solo-Sragen, Semarang-Grobogan.
Rute terbaru yakni Solo-Sukoharjo-Wonogiri menjadi komitmen Dishub Jateng dalam memperluas layanannya.
Kepala Dishub Jateng Henggar Budi Anggoro menyebut, dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional, pihaknya bertekad untuk menciptakan transportasi yang handal bagi masyarakat Jateng. Terlebih, lanjut Budi, pihaknya ini menciptakan pemerataan akses bagi seluruh masyarakat.
“Harapannya kita dapat menciptakan sistem transportasi yang handal di Jawa Tengah. Sistem transportasi yang maju dan berpihak pada masyarakat Jawa Tengah,” ujar Henggar usai menghadiri Upacara Peringatan Hari Perhubungan Nasional, Senin 18 September 2023.
Tak hanya tujuh koridor, Henggar menyebut akan menambah koridor baru di wilayah Pantura bagian timur. Lantaran permintaan masyarakat di daerah itu sangat tinggi, khususnya untuk kebutuhan transportasi umum seperti BRT Trans Jateng.
BACA JUGA:Ita Siagakan Ambulan dan Tim Medis di Lokasi Kebakaran TPA Jatibarang
“Kita beharap akan membuka beberapa koridor baru, karena permintaan (masyarakat) begitu luas yang kaitannya dengan operasional BRT ini. Tentunya yang wilayah Pantura Timur sampai saat ini belum tersentuh dan mudah-mudahan ini bisa kita alokasikan,” bebernya.
Perencanaan Bus Berbasis EBT, Akan Gunakan BBG Untuk Ganti BBM
Lebih lanjut, transisi transportasi menuju energi baru terbarukan (EBT) juga tak luput dari harapan pelaksana otonomi tersebut. Henggar mengaku, pihaknya kini tengah berproses untuk mengubah penggunaan energi fosil pada BRT Trans Jateng menjadi EBT secara bertahap.
Melalui perubahan bertahap itu, Henggar ingin masifnya transportasi umum tidak berdampak buruk bagi lingkungan sekitar.
“Harapannya ke depan kita mampu mengubah sistem BBM yang masih masyarakat gunakan saat ini menjadi energi listrik maupun energi gas atau yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.
Menindaklanjuti proses transisi itu, lanjut Henggar, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mewujudkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
Menurutnya, butuh waktu tiga tahun untuk mengimplementasikan program tersebut. Paling tidak, kata Henggar, bahan bakar BRT Trans Jateng dapat berubah menjadi bahan bakar gas (BBG).
BACA JUGA:Walikota Gerak Cepat Komunikasi Kerahkan Damkar Padamkan Kebakaran TPA Jatibarang
“Tentunya nanti ke depan yang kami laksanakan saat ini bisa berubah menjadi BBG. Paling tidak tiga tahun ke depan harus bisa mewujudkan sistem transportasi itu (ramah lingkungan),” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





