“Desentralisasi politik itu tidak tampak dalam Pilgub kita hari ini, bukan cuma Jateng, di Jatim juga warnanya begitu, Jabar juga. Rakyat di daerah sangat terdikte kepentingan elit pusat, karena dia bukan tidak mampu saja menentukan orang yang akan dia pilih, tapi lebih banyak memilih orang yang telah pusat pilihkan,” paparnya.
Menurutnya, Pilkada ideal terjadi di rentang waktu 2005 hingga 2015 silam. Alasannya, desentralisasi politik masih kental dalam pelaksanaan Pilkada tersebut.
Terlebih, media sosial masih saja ramai oleh perdebatan antara pendukung Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.
“Bukan hanya perdebatan siapa yang terpilih dan tidak terpilih. Sampai hari ini antara pendukung Anies dan Prabowo, itu masih terasa sekali. Tampaknya tidak selesai-selesai, karena agenda itu [Pilpres dan Pilkada] masih sekuensif,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




