Zainal mengungkapkan kondisi korban masih terguncang berat. Korban yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu sempat enggan bicara bahkan dengan keluarga sendiri.
“Kondisi korban masih trauma. Tadinya enggak mau ngomong sama saya, enggak mau ngomong. Dengan orang tuanya juga sedikit sekali ngomong,” kata Zainal.
Setelah mendapatkan dua kali pendampingan psikolog dari Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kota Semarang, korban mulai sedikit terbuka meski belum bisa menceritakan kronologi secara penuh.
“Sudah dua kali ini, sudah sedikit mulai terbuka tapi belum bisa menggali secara utuh,” pungkas Zainal. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





