“Ada yang memilih diam, masuk kamar, bahkan sengaja tidak pulang saat Lebaran untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan itu,” tambahnya.
Generasi Muda Mulai Berani Menjawab
Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini cenderung lebih terbuka dan berani menetapkan batasan.
Sebagian memilih menjawab santai, bahkan tegas, bahwa pernikahan adalah pilihan pribadi.
“Mereka bisa bilang, ‘enggak apa-apa, saya masih ingin fokus karier dulu’. Bagi mereka, menikah itu sangat personal dan tidak ingin diusik,” ujar Probowatie.
Cara Bijak Menyikapi Pertanyaan Sensitif
Untuk menghindari konflik saat Lebaran, Probowatie menyarankan respons yang tetap sopan namun tidak membuka ruang tekanan lebih lanjut.
“Cukup jawab, ‘terima kasih, mohon doanya saja’. Itu sudah cukup. Tetap santun tanpa harus menjelaskan panjang lebar,” sarannya.
BACA JUGA: Hemat Bensin, Pemerintah Pertimbangkan WFH Sehari dalam Seminggu Usai Lebaran 2026
Ia juga mengingatkan pentingnya empati dari pihak keluarga agar tidak menjadikan momen Lebaran sebagai ajang tekanan sosial.
“Silaturahmi itu seharusnya membawa kenyamanan, bukan malah membuat orang merasa terpojok,” tegasnya.
Probiwatue juga berpesan, di tengah perubahan zaman, Lebaran bisa menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga. Mengganti pertanyaan sensitif dengan perhatian yang lebih tulus bisa membuat suasana menjadi lebih hangat dan inklusif. (*)
Editor: Farah Nazila





