“Pohon yang sering dipaku itu bisa mengurangi kekuatan batangnya. Umur pohon juga bisa lebih pendek dan lebih mudah tumbang,” jelasnya.
Dalam penanganan pohon tumbang, Perkim mengerahkan tujuh tim lapangan yang masing-masing beranggotakan delapan hingga sepuluh personel.
Setiap tim didukung armada skylift dan dump truck untuk memotong serta mengangkut batang dan ranting pohon.
“Tim kami langsung bergerak sejak laporan masuk. Banyak petugas bahkan tidak sempat beristirahat karena harus menangani laporan di berbagai titik,” kata dia.
Ia menambahkan, sebagian besar pohon tumbang yang mengganggu lalu lintas sudah berhasil tertangani dalam waktu cepat. Prioritas penanganan berfokus pada jalan protokol dan pohon yang menimpa rumah warga.
“Yang paling dulu kami tangani adalah yang menutup jalan utama dan yang menimpa rumah warga. Sekarang tinggal beberapa titik kecil yang masih dalam proses pembersihan,” ujarnya.
Laporan Melalui Kanal Pengaduan Pemkot
Koordinasi penanganan melalui berbagai jalur laporan masyarakat. Termasuk call center darurat 112 serta laporan dari lurah dan camat di wilayah terdampak. Selanjutnya, tim gabungan Perkim bagi sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan relawan menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan.
“Kalau tidak kita kerjakan bersama-sama tentu sulit. Dengan tim yang terbatas, bantuan dari BPBD, relawan, aparat wilayah, dan warga sangat membantu,” katanya.
Melihat intensitas cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, Pemerintah Kota Semarang juga berencana mengusulkan penambahan armada perawatan pohon.
Saat ini Perkim hanya memiliki tujuh unit skylift dan tujuh dump truck untuk melayani seluruh wilayah kota.
“Secara ideal, satu kecamatan seharusnya memiliki satu armada. Karena itu kami berencana mengusulkan penambahan armada secara bertahap sesuai kemampuan APBD,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, Pemkot Semarang juga terus melakukan inventarisasi pohon di ruang publik. Pohon yang rawan akan Perkim pangkas atau ganti dengan tanaman baru untuk menjaga keselamatan sekaligus mempertahankan ruang hijau kota. (*)
Editor: Elly Amaliyah





