“Kami urunan di level pimpinan atau pejabat utama, seperti Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara, bahkan dari ketua di masing-masing provinsi,” kata Yudha.
Bahkan, saking tak ada anggaran, ia mengaku punya cerita unik saat melakukan deklarasi di salah satu kota.
“Saya punya cerita unik, pernah terjadi deklarasi di salah kota. Karena memang waktu itu nggak ada duit. Kita buat (masak) nasi sendiri. Saya perintahkan Ketum Relawan Mas Imron untuk bawa sayur, tempe goreng. Bendahara saya suruh bawa ikan goreng. Ada yang bawa urap atau gudangan, akhirnya kita makan nyengkuyung bareng 50-70 orang. Karena memang waktu itu kita nggak ada duit,” ceritanya.
Relawan Bocahe Gibran sendiri terbentuk sejak Mei 2023. Relawan ini telah mengawal Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka sejak awal sebelum menjadi Cawapres mendampingi Prabowo Subianto.
“Kegiatan awal kami ya mengkampanyekan dan mensosialisasikan Mas Gibran untuk jadi bakal calon wakil presiden. Mulai Mei hingga Agustus kami lakukan penguatan struktur wilayah. Sampai bulan September kami mulai deklarasi. Dan Deklarasi pertama kami di Sragen,” ungkapnya.
Ia menjelaskan jika struktural relawan Bocahe Gibran telah terbentuk dari tingkat nasional hingga ke kelurahan/desa atau Koordinator Desa (Kordes).
Berkampanye masif di media sosial
“Kita terstruktur. Masing-masing kabupaten/kota ada perangkat pengurus, di tingkat provinsi juga. Kita bahkan sudah terbentuk di 11 provinsi di Indonesia,” ujarnya.
Komunikasi intens pihaknya lakukan dengan Cawapres Gibran Rakabuming Raka. Meski demikian, ia juga masih sering berkomunikasi dengan Tim Pemenangan Capres. Terutama membangun komunikasi untuk mensinkronisasikan beberapa hal terkait program kerja, visi misi, dan sebagainya.
Bicara sasaran, atau segmentasi, Yudha menyebut jika segmen yang mereka rangkul banyak dari pelajar, mahasiswa, generasi milenial, gen Z, dan generasi Alpha.




