“Sasarannya pemilih muda. Kami di TKN tergabung dalam tim gold dan fanta atau tim pemilih pemula. Seperti anak-anak baru lulus sekolah atau baru memiliki KTP. Mereka pemilih pemula yang masih bingung. Jadi tugas kami merangkul mereka untuk kemudian meyakinkan mereka agar jangan ragu memilih pasangan nomor urut dua,” katanya.
Mengapa memilih milenial dan generasi muda? Yudha menyebut, hal ini lantaran saat ini usia produktif lebih banyak. Apalagi dengan adanya bonus demografi. Sehingga ia lebih mengorganisir massa berusia 40 tahun ke bawah.
Bukan hanya membentuk relawan tingkat daerah dan deklarasi, Relawan Bocahe Gibran juga melakukan kampanye masif di media sosial.
“Kita medsos juga ada, bahkan punya beberapa akun instagram, kalau akun official nasional ada satu. Masing-masing provinsi juga kita perintahkan untuk membuat. Kemudian kabupaten/kota juga ada,” bebernya.
Anggaran terbesar untuk pasang alat peraga kampanye
Menurut Yudha, dari 11 provinsi yang menjadi fokus Tim Kampanye Nasional (TKN). ada 9 provinsi potensial yang mereka gadang memiliki suara cukup besar. Seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI, Banten, Lampung, hingga NTT.
“Anggaran paling besar dari APK, dari pengadaan banner, baliho, kaos dan sebagainya. Itupun sama, dari sumbangan bareng-bareng. Desain satu kita tentukan, kemudian kita bagi ke kabupaten/kota yang mau kita sponsori seperti Pati dan Blora,” paparnya.
BACA JUGA: Deklarasi di Jawa Tengah, Relawan Gibran: Izinkan Kami Membuktikan Kalau Gen Z dan Milenial Mampu
Menurutnya, relawan Bocahe Gibran tidak pernah memperjualbelikan kaos untuk mencari dana tambahan.
“Kaos juga kita produksi swadaya. Kebetulan ada bantuan juga dari pusat, kaos bergambar Prabowo kartun. Itu kita bagikan. Bahkan kemarin kita buat 2.000 kaos dari anggota relawan,” katanya.
Ia mengakui jika kaos desain bergaya milenial dengan gambar kartun atau karikatur justru menarik minat banyak orang.




