Perkara klaim “kota tertinggal” ini membuat penulis tergelitik untuk merunutnya sedari Kota Semarang tempo doeloe. Penulis hendak mencari tahu, apakah Kota Semarang pernah tertinggal. Dan sebagian jawaban atas pertanyaan itu penulis peroleh dalam karya Mas Marco Kartodikromo, seorang “pengarang revolusioner” antikolonial Belanda.
Meneropong Semarang tempo doeloe, mencari jejak-jejak yang tertinggal
Mendengar nama Marco Kartodikromo, barangkali publik pembaca teringat pada novelnya yang cukup tersohor, Student Hidjo (1918). Namun, novel itu sebagian besar berlatar di Surakarta. Sehingga, pilihan jatuh pada karya Marco Kartodikromo yang lain, yang terbit pada 1914, yakni novel atau “soerat tjerita” bertajuk Mata Gelap: Tjerita jang Soenggoeh Kedjadian Ditanah Djawa.
Kisah Mata Gelap menampilkan latar kehidupan di Semarang tahun 1910-an. Marco Kartodikromo mengawali cerita dengan menggambarkan situasi hiruk-pikuk di Semarang:
“Ini hari hawa di ibukota Semarang amat nyaman, berpuluh-puluh orang laki-laki dan perempuan dari segala bangsa sama lalu di Jalan Bojong. Mereka itulah kebanyakan menuju ke Pasar Johar. Suara kendaraan, auto, fiets, dan lain-lain yaitu rupa pakaian yang dipakai oleh orang-orang perempuan seakan-akan mengaburkan mata si penonton. […] Kedua pemuda itu bertemu di jalan perempatan di muka Hotel Du Pavillon. Tak lama pula dia orang masuk ke rumah makan, Restoran Oewa. […] Di muka rumah makan Oewa banyak penumpang yang hendak pergi ke Kendal, Batang, Pekalongan, dll. Apabila trem sampai di muka rumah makan Oewa lalu berhenti, banyak penumpang sama naik di situ.”

Simbol-simbol kemodernan seperti auto (mobil), hotel, restoran, trem, pula kereta api dan lampu-lampu gas serta jalanan beraspal dan pembangunan kolonial lainnya di bagian lain cerita, menunjukkan Semarang ialah kota modern. Kehidupan manusia modern pun tak pelak menyertai simbol-simbol kemajuan tersebut. Terlebih, lewat penggambaran pelesir ala modern di ruang publik seperti aloon-aloon Semarang di kawasan Pasar Johar ini:


