Catatan Editor

Menengok Semarang Awal Abad XX lewat Karya Marco Kartodikromo, Bukan ‘Kota Tertinggal’ Seperti Klaim Politisi

×

Menengok Semarang Awal Abad XX lewat Karya Marco Kartodikromo, Bukan ‘Kota Tertinggal’ Seperti Klaim Politisi

Sebarkan artikel ini
Di Buku | Gambar AI | Frankenstein | Semarang Tertinggal | Kita Kami | 2024 PPDB | Sato Reang
Mu'ammar Qadafi. (Foto: Dok. Pribadi)

“Di alun-alun sini berpuluh-puluh orang datang. Mereka itu sama melihat keadaan di situ dan mendengarkan bunyi musik di kupel stadstuin yang amat merdu suaranya. […] Di alun-alun sini keadaannya sebagai biasa orang-orang yang sama mengunjungi di sini kebanyakan sama membaca program bioskop, ada pula yang sama melihat serdadu-serdadu yang main voetbal di sebelah tangsi, juga banyak yang berdudukan dan omong-omong kosong, begitu juga kupu-kupu malam yang berwarna-warna sayapnya sudah mulai mencari makan.”

Semarang betulan kota maju?

Marco Kartodikromo berupaya merekam perkembangan Kota Semarang lewat berbagai simbol kemodernan tersebut. Meskipun yang ia tulis adalah sastra yang notabene hasil kerja imajinasi, namun tentunya semua itu berpijak pada realitas yang ada. Data sejarah yang telah banyak tercatat di buku-buku pun membenarkan bukti kemajuan Kota Semarang. Misalnya, kala itu perusahaan-perusahaan Belanda memang lebih suka bercokol di kota pelabuhan seperti Semarang. Sebab, transportasi serta sarana modern lainnya di Semarang sebagai kota besar pada zaman kolonial itu jelas lebih memadai. Pun, dengan telah masuknya gagasan dan budaya Eropa seperti halnya koran, buku, teater serta hiburan semacamnya.

Lompat kembali ke abad XXI ini, tampaknya tak banyak yang berubah dari kemodernan Kota Semarang. Kecuali, trem yang memang telah lenyap beserta jalurnya yang kini malih jalan-jalan beraspal. Sisanya, “simbol-simbol kemajuan” itu, masih bisa kita lihat di Semarang hingga kini, dan jumlahnya tentu telah berlipat ganda. Maka, menganggap Semarang sebagai kota tertinggal agaknya kurang tepat, walau menengok dari sisi kemajuannya memang tak sepesat kota-kota besar lainnya.

Politisi D barangkali memang belum terlalu mendalami riwayat Kota Semarang, hingga ketika lidahnya keseleo mengucap “Semarang kota tertinggal”. Toh, ia kini masihlah seorang kepala kabupaten-mepet-Semarang; meskipun, sendirinya bukan kelahiran kabupaten itu, bukan pula provinsi Jawa Tengah ini. (*)

Mu’ammar R. Qadafi
Editor beritajateng.tv

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp