PERTENGAHAN tahun politik ini, seorang politisi sekonyong-konyong berujar, tanpa tedeng aling-aling, bahwa Semarang adalah kota tertinggal. Sedianya, Politisi “D” itu berniat menjajal peruntungan untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2024. Baliho-balihonya telah banyak terpampang di sepenjuru provinsi, memamerkan rupa “politikus muda” beserta jargon-jargon kecil, pula gimik-gimik menghebohkan sekali waktu. Walakin, semua tetiba malih sewaktu partai tempat ia bernaung mengutusnya untuk berpindah laga, turun satu tingkat, yakni Pemilihan Wali Kota Semarang 2024.
Barangkali, itulah awal mula insiden keseleo lidah, atau blunder sebagaimana masyhur kiwari ini, yang membikin sebagian warga Kota Semarang ada yang tak terima dengan ucapannya. Barangkali pula, pikiran serta ucapan Politisi D yang mulanya hendak mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Tengah belum ia reset menjadi mode calon Wali Kota Semarang. Ia berpikir serta berucap masih dengan hasrat di angan-angan ingin jadi calon gubernur.
“Dengan perkembangan Kota Semarang hari ini, kalau kita lihat dibandingkan ibu kota provinsi di pulau Jawa yang lainnya, hari ini Semarang masih tertinggal,” tutur Politisi D, beberapa waktu yang lalu. “Dan kalau kita bandingkan dengan kota-kota lain yang ada di Jawa Tengah, trennya hari ini Kota Semarang agak sedikit tertinggal,” imbuhnya tak berselang lama.
Dari ucapannya ia kentara mencoba membanding-bandingkan dari kacamata Kota Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah. Lalu, meneropong daerah lain lintas provinsi di Pulau Jawa. Termasuk ia arahkan pula sorotan ke kota-kota lain di Jawa Tengah sendiri. Boleh jadi perbandingan serupa tak akan terlontar darinya bila ia kembali berlaga dalam Pemilihan Bupati pada kabupaten yang kini masih ia pimpin sebagai petahana. Padahal, jika sendirinya beroleh komando untuk maju sebagai calon gubernur, klaim ketertinggalan semacam itu mungkin lebih pas ia gunakan mengingat Jawa Tengah ialah provinsi yang “masih tertinggal”.


