Jateng

Menikmati Seni Sorengan di Lereng Merbabu, Mengenang Semangat Prajurit Jipang Panolan

×

Menikmati Seni Sorengan di Lereng Merbabu, Mengenang Semangat Prajurit Jipang Panolan

Sebarkan artikel ini
Kesenian Sorengan Gunung Merbabu
Penampilan kelompok seni Soreng, Dusun Tayem, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang pada Ojo Dumeh Fest putaran 16, di lapangan Kridosono, Kopeng, Sabtu malam, 26 September 2026. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv) 

SEMARANG, beritajateng.tv – Kesenian Sorengan masih menjadi magnet bagi masyarakat yang ada di lereng Gunung Merbabu, wilayah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Setidaknya, ini terungkap dari Roadshow seni budaya ‘Ojo Dumeh Fest’ putaran ke-16 yang digelar di Lapangan Kridosono, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Sabtu 26 September 2026 malam.

BACA JUGA: Kemeriahan Ojo Dumeh Fest Putaran ke-11 di Candirejo Semarang, Kolaborasi Campursari dan Kesenian Tradisional

Dari sekian penampil, kelompok Kesenian Sorengan Dusun Tayeman, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, menjadi salah satu penampil yang cukup menyedot perhatian.

Kesenian tradisional yang terinspirasi oleh kisah Babad Tanah Jawa dan menggambarkan keberanian prajurit Kadipaten Jipang Panolan ini memang mengakar di lereng Merbabu.

Cerita tentang Arya Penangsang

Meski merupakan pertunjukan tari, kesenian ini mengangkat narasi tentang Adipati Jipang Panolan atau Arya Penangsang dalam menyiapkan ketrampilan para prajuritnya.

Sehingga ada alur cerita yang bisa dinikmati dari kesenian yang menonjolkan gerakan- gerakan tari yang dinamis. Para pelaku seni dari Dusun Tayeman membawakan dengan apik cerita tersebut.

BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

Alur cerita dari kesenian ini juga seperti mengenang kembali bagaimana Adipati Aryo Penangsang melakukan gladen. Artinya latihan dalam menempa kemampuan para prajuritnya.

Sehingga sangat menghibur ribuan penonton yang memadati lapangan Kridosono.

Inisiator Ojo Dumeh Fest, Bagus Suryokusumo mengatakan, dari seluruh putaran festival yang di gelar telah muncul beberapa kesenian tradisional yang otentik.

“Festival ini memang untuk mengangkat lokalitas seni budaya di Kabupaten Semarang,” katanya.

BACA JUGA: Menyatunya Seni Mural dan Kampanye Tertib Berlalu Lintas di Benteng Fort Willem Ambarawa

Sehingga, seni budaya lokal mendapatkan tempat setidaknya di wilayahnya sendiri. Sehingga selain pelestarian, festival ini menjadi bentuk keberpihakan pada seni budaya lokal.

Karena ternyata banyak jenis kesenian tradisional lokal yang sangat layak untuk mendapat ruang. Serta untuk tampil dalam berbagai agenda tradisi maupun event budaya lainnya.