Viral

Menjelang Imlek, Boneka kuda dengan Ekspresi Menangis Sontak Jadi Sorotan

×

Menjelang Imlek, Boneka kuda dengan Ekspresi Menangis Sontak Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Umat Klenteng Tay Kak Sie
Umat Klenteng Tay Kak Sie saat membersihkan patung jelang tahun baru Imlek, Jumat, 24 Januari 2025. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebuah boneka kuda dengan ekspresi yang tidak biasa mendadak ramai menjadi perbincangan oleh masyarakat.

Boneka kuda tersebut memiliki wajah yang sedang menangis, alih-alih sebagai boneka yang gagal dibuat, tpi boneka kuda menangis ini viral dan laris manis di pasaran.

Momen ini bertepatan dengan jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, sehingga masyarakat kaitkan sebagai bentuk ungkapan emosional yang terwakilkan oleh boneka tersebut. Sekilas, boneka kuda terlihat menggemaskan.

BACA JUGA: Ada yang Spesial, Intip Jadwal Perayaan Imlek Klenteng Tay Kak Sie Semarang

Viral Boneka Kuda Menangis 

Namun bagi sebagian masyarakat, ekspresi sedih pada boneka itu justru terasa dekat dengan kondisi yang mereka alami sehari-hari.

Tak sedikit dari masyarakat menyebutkan bahwa boneka “kuda menangis” sebagai representasi perasaan pekerja kantoran dan masyarakat kelas menengah yang tengah menghadapi tekanan ekonomi dan pekerjaan.

Fenomena ini menjadi menarik karena berbeda dengan tren mainan pada umumnya yang menonjolkan keceriaan atau kegembiraan, terutama menjelang perayaan besar seperti Imlek yang identik dengan suasana suka cita.

Sejumlah penjual memanfaatkan momen ini dengan mengaitkan boneka tersebut sebagai simbol emosional yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Meski kuda dalam budaya Tionghoa kerap bermakna sebagai simbol kerja keras dan ketekunan, ekspresi “menangis” pada boneka ini memunculkan tafsir baru di kalangan publik.

Alih-alih bermakna sebagai simbol keberuntungan, boneka tersebut justru mewakili kelelahan yang banyak orang rasakan setelah melewati tahun-tahun penuh tekanan.

Pengamat psikologi sosial menilai fenomena ini tidak bisa terlihat sekadar sebagai tren viral.

Boneka kuda menangis memiliki nilai menjadi media proyeksi emosi masyarakat, terutama mereka yang sulit mengekspresikan rasa lelah dan sedih secara langsung.

Kondisi ini terkenal sebagai emotional projection, yakni ketika seseorang memindahkan perasaannya ke objek tertentu.

Boneka menjadi media aman untuk menyampaikan emosi yang selama ini terpendam. Menariknya, emosi yang hadir bukan kemarahan, melainkan kesedihan.

Hal ini terkesan lebih terlihat secara sosial. Menangis tidak mengancam, tidak menyalahkan siapa pun, dan tidak memicu konflik.

Ekspresi sedih pada boneka ini juga terbungkus dengan unsur humor. Inilah yang membuatnya mudah untuk masyarakat terima.

Kesedihan hadir secara ringan, bahkan mengundang senyum. Humor menjadi solusi lain dalam keadaan bertahan bagi masyarakat untuk menghadapi tekanan.

Dengan menertawakan kelelahan sendiri, seseorang bisa merasa tidak sendirian dan tetap mampu melanjutkan rutinitas.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa kelelahan tersebut belum benar-benar terselesaikan, melainkan hanya dinormalisasi.

BACA JUGA: Hotel Ciputra Semarang Hadirkan Paket Spesial Promo Perayaan Valentine dan Imlek 2026

Imlek 2026

Di balik viralnya boneka kuda menangis, tersimpan potret sosial yang lebih luas. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di tengah euforia perayaan dan tren musiman seperti Imlek, masih banyak masyarakat yang memikul beban emosional.

Boneka ini bukan sekadar barang dagangan atau tren sesaat, melainkan simbol dari emosi kolektif yang belum sepenuhnya mendapatkan ruang.

Viralnya boneka kuda menangis mungkin akan berlalu seiring waktu. Namun pesan yang tersirat di balik ekspresi boneka tersebut patut menjadi bahan refleksi bersama, bahwa di balik senyum perayaan, ada kelelahan yang perlu dipahami, bukan sekadar ditertawakan. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp