Menurut dia, skema itu memungkinkan penambahan dapur operasional. Tentunya tanpa harus mengabaikan pemerataan penerima manfaat.
“Kalau misalnya 3.000 penerima manfaatnya bisa kurangi 2.000. Lalu sisanya bisa berbagi ke dapur-dapur lain yang sudah jadi yang sekarang belum operasional itu,” bilang Haris.
MBG Prasmanan Layak Uji Coba
Selain mengevaluasi kesiapan dapur, Haris mendukung uji coba penyajian MBG dengan sistem prasmanan. Metode ini dia nilai berpotensi menjadi alternatif. Hal itu, kata dia, karena makanan dapat tersaji dalam kondisi hangat.
Meski demikian, Haris menilai penerapan sistem prasmanan perlu melihat hasil uji coba terlebih dahulu. Jika pelaksanaannya dapat baik dan sesuai dengan kondisi daerah, metode tersebut dapat jadi pertimbangan untuk penerapannya lebih luas.
“Kalau memang ini bagus, makanan masih hangat. Kemudian anak-anak antusias dengan program ini, saya kira enggak ada salahnya ini kita lanjutkan,” ucap dia.
BACA JUGA: Jokowi Pamer KTA PSI, Pengamat Undip: Unjuk Diri Masih Berpengaruh, Ancang-ancang Menuju Pemilu 2029
Haris juga menilai sistem prasmanan menjadi salah satu opsi yang bisa dapat pertimbangan dalam upaya menangani persoalan keracunan makanan dalam program MBG.
Akan tetapi, metode penyajian tersebut tetap perlu dengan dukungan pengolahan, penyimpanan, dan kebersihan makanan yang sesuai standar keamanan pangan.
Menurut Haris, evaluasi terhadap hasil uji coba perlu untuk menentukan kesesuaian sistem prasmanan dengan kebutuhan pelaksanaan MBG.
Sementara itu di Jawa Tengah, MBG prasmanan telah ada uji coba di beberapa kota dan kabupaten. Di antaranya Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Grobogan, Rembang, Pekalongan, Pemalang, Batang, Sragen, Kudus, dan Jepara.
Uji coba tersebut mulai pada 5-16 Oktober 2026. (*)
Editor: Diaz A Abidin





