BLORA, beritajateng.tv – Hasil memuaskan di rasakan para petani di Desa Bakah, Kecamatan Kunduran, Blora saat panen raya jagung.
Panen raya jagung yang menggunakan bibit varietas Hibrida NK 212. Hasilnya berukuran jumbo dan produksi jagungnya bisa mencapai 9,53 Ton/Ha.
Bupati Blora H Arief Rohman tampak kaget saat panen raya jagung setelah melihat hasil jagung yang di dapat.
“Semoga hasil panen ini bisa di contoh petani lainnya. Tadi saya minta hitung, hasil per hektar nya bisa capai Rp 41,9 juta. Blora ini menjadi daerah penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah, kedua setelah Grobogan. Tahun 2022 kemarin, Blora mampu memproduksi jagung sebanyak 429 ribu Ton. Jadi potensi yang luar biasa,” ucap Bupati Kamis 31 Agustus 2023.
Dengan di dampingi Plt. Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Ngaliman, SP., MMA., Bupati turun langsung ke sawah.
Ia bersama para PPL dan petani secara langsung memetik jagung yang telah mengering dan siap di pipil.
Di tengah ribuan pohon jagung tersebut, Bupati Arief kagum dengan ukuran jagung yang bisa di bilang berukuran jumbo. Padahal pengairannya tidak membutuhkan banyak air.
“Pak Bupati, ini adalah jagung varietas hibrida NK 212. Tahan air (tidak butuh banyak air), dan hasilnya bagus. Dapat menghasilkan jagung sampai 9,53 ton pipilan kering panen per hektar. Dengan harga Rp 4400,00 per kg kering panen. Menguntungkan bagi petani,” ungkap Plt DP4, Ngaliman.
Menurutnya jenis jagung tersebut sudah di,tanam di beberapa Kecamatan di Blora. Tidak hanya di Kunduran, namun juga di Kecamatan lainnya seperti Todanan, Jati, Banjarejo, Ngawen.
Hasil Melimpah Panen Raya Jagung
Budianto, salah satu petani menyatakan bahwa menanam benih NK 212 tahun ini lebih memuaskan.
“Dengan bibit NK 212, cara perawatannya mudah, pupuknya mudah, kebutuhan airnya hanya sekali penyiraman saat jagung mau isi. Tidak ngocori,” ungkapnya.
Bupati Arief pun menyambut baik hasil panen jagung di Desa Bakah itu. “Semoga kedepan produksi semakin naik dan kita upayakan ada investor yang ke Blora. Tidak hanya di ambil jagungnya saja, namun juga mungkin pengolahan untuk pakan ternak dan yang lainnya,” lanjutnya.
Pihaknya juga meminta para penyuluh mulai mendampingi pengembangan pertanian organik. Agar petani lebih mudah dalam memperoleh dan memproduksi pupuk. Mengingat pupuk kimia bersubsidi semakin di kurangi oleh Pemerintah Pusat. (*)
Editor: Elly Amaliyah





