Ia menambahkan, pendidikan modern seharusnya sudah memberikan dampak nyata sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.
“Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Melalui pendekatan digital transformation, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini. Tetapi juga untuk menghadapi pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” katanya.
Keresahan terhadap masa depan pendidikan dan dunia kerja juga disoroti dari sisi psikologis.
Psikolog sekaligus Faculty Member BINUS University, Gary Collins Brata Winardy, menilai tekanan dalam menentukan pendidikan kini semakin tinggi karena perkembangan teknologi yang sangat cepat.
“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa kekhawatiran bahwa jurusan yang mereka pilih saat ini tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.
Menurut Gary, ketidakpastian itu sering memicu overthinking dan keraguan dalam mengambil keputusan.
“Ketika seseorang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan, mereka cenderung ragu dalam menentukan pilihan. Karena itu, pendidikan yang mampu memberikan arah, pengalaman nyata, dan exposure terhadap dunia kerja akan sangat membantu mengurangi kecemasan tersebut,” tambahnya.
Kampus Pilihan
Pandangan serupa juga dirasakan para orang tua mahasiswa. Salah satunya datang dari Andi Purnama Hardjani, yang melihat perubahan besar pada anaknya selama menempuh pendidikan di BINUS University @Semarang.
“Sebagai orang tua yang juga bergerak di industri kreatif, saya tahu betul betapa cepatnya dunia ini berubah. Karena itu saya ingin memastikan anak saya tidak hanya belajar di lingkungan yang bagus secara akademik. Tetapi juga benar-benar dpersiapkan menghadapi industri nyata,” ungkapnya.
Ia mengaku melihat perkembangan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga pola pikir dan kepercayaan diri anaknya.
“Yang saya lihat di BINUS @Semarang, anak saya tidak hanya tumbuh secara pengetahuan. Tetapi juga cara berpikirnya jadi lebih terstruktur dan lebih berani,” katanya.





