SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah resmi memutuskan untuk menganulir piagam kejuaraan marching band internasional di Malaysia dalam PPDB jalur prestasi.
Sebelumnya, Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, telah merilis putusan pertama pada Rabu, 10 Juli 2024 lalu. Putusan itu menuai protes keesokan harinya.
Puluhan orang tua/wali siswa pun menggeruduk Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis, 11 Juli 2024 siang.
Adapun putusan final usai penggerudukan itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, sampaikan di kantornya pada Kamis, 11 Juli 2024 siang.
Aksi protes puluhan orang tua siswa tak membawa hasil apa pun pada berubahnya putusan. Atau dalam kata lain, gugatan mereka kepada Pemprov Jawa Tengah agar bisa memasukkan anaknya ke daftar cadangan dan mengganti piagam baru tak terkabulkan.
Teriakan histeris dan isak tangis mewarnai pembacaan putusan di kantor dinas terkait. Kemarahan orang tua membuat suasana hening menjadi ramai. Salah satu ibu dari calon peserta didik (CPD) bahkan dengan lantang menyatakan anaknya tak menggunakan piagam palsu.
“Anak-anak kita ini anak-anak yang punya prestasi, bukan anak-anak biasa yang membeli piagam. Kami tidak pernah memalsukan piagam. Kalau misalnya kami tahu bahwa piagam itu palsu, tidak mungkin kami pakai, buat apa?” teriak ibu tersebut.
Seluruh orang tua kompak berteriak bahwa mereka adalah korban. Korban yang tertipu oleh pelatih marching band SMPN 1 Semarang yang jejaknya hingga kini belum jelas.
Bahkan, ada salah satu orang tua yang menyalahkan verifikator lantaran ia anggap tak becus memeriksa dokumen, termasuk piagam anak-anak mereka.
“Kenapa tim verifikator bisa kecolongan. Ada legalisirnya, ada tanda tangannya, kerjanya bagaimana ini?” ucap salah satu orang tua.
BACA JUGA: Video Jadi Penyebab Geger Piagam Palsu PPDB, Pelatih Marching Band SMPN 1 Semarang Menghilang
Tak boleh datar ulang, nama calon siswa pemakai piagam palsu masih terpampang di jurnal PPDB Jawa Tengah 2024
Menurut pengakuan salah satu orang tua dalam aksi protes tersebut, nama-nama calon siswa yang mendaftar dengan piagam marching band itu masih ada dalam jurnal PPDB.
Kendati begitu, mereka mengaku tak diperbolehkan Disdikbud Jawa Tengah untuk melakukan daftar ulang.
Atas status piagam yang berubah menjadi diragukan keabsahannya itu pun membuat nilai akhir calon siswa bersangkutan juga berkurang secara manual.
Orang tua yang hadir menganggap pengurangan nilai secara manual itu tak sesuai dengan sistem dalam petunjuk teknis (juknis).
“Anak-anak itu, secara sistem kan namanya masih muncul di sistem atau jurnal. Cuma ketika dikurangi, kan menggunakan cara-cara di luar sistem atau offline, apakah itu dibenarkan secara juknis?” teriak salah satu orang tua.
Dalam benak para orang tua, jika bisa mengurangi poin secara manual, seharusnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah juga bisa mengubah poin sesuai kemauan orang tua. Caranya, dengan mengganti piagam palsu.
“Karena itu benar-benar melanggar juknis. Kalau itu secara manual di luar juknis, seharusnya keinginan kita untuk nambah nilai atau menambah peringkat secara manual itu bisa dijalankan,” sambungnya.
Alasan mereka kukuh dinas terkait bisa mengubah putusan tak lain ialah tak setiap dari mereka mampu membayar sekolah swasta.
“Perlu kita luruskan, kita tidak menolak kebijakan Pak Gubernur, kita hormati. Kita mohon, untuk dipertimbangkan karena terus terang kita tidak bisa menempuh dengan cara apa,” ujarnya.
Sambil membawa piagam pengganti, orang tua kukuh agar anaknya bisa tetap masuk dalam jurnal PPDB, tanpa harus terlempar, tanpa harus mencari sekolah swasta.
Akui dapat arahan agar tidak ganti pilihan sekolah
Dalam momen tersebut, salah satu orang tua yang juga enggan menyebutkan namanya mengaku bahwa mereka pernah mengunjungi rumah dinas Pj Gubernur Jawa Tengah.
Ia mengaku, Wakil Sekretaris PPDB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sunarto, mengarahkan mereka untuk tidak mengganti sekolah.
“Kita sudah mindah anak-anak kita, dari SMA 3 kita pindah ke SMA 5. Ibu-ibu lain juga begitu, tapi apa jawaban Pak Narto? ‘Sudah kembali lagi ke pilihan semula.’ Kita percaya, kita disuruh pindah lagi ke pilihan semula karena sudah sistem, tetapi kenapa hasilnya begini?” akunya.
Aksi protes malam itu berakhir dengan tangisan para orang tua dan calon siswa. Pantauan beritajateng.tv, mereka meninggalkan lokasi pukul 22.15 WIB. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





