Luthfi menjelaskan proyek giant sea wall pertama di Jawa Tengah kini terbangun di kawasan Kota Semarang hingga Sayung, Kabupaten Demak. Proyek tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer dengan anggaran mencapai Rp10,7 triliun dari pemerintah pusat.
Ia mengaku, pembangunan giant sea wall tersebut kini hampir rampung dan ԁitargetkan segera beroperasi dalam waktu dekat.
“Giant sea wall yang pertama ada itu adalah mulai Kota Semarang dan Sayung. Panjangnya 10 kilometer, biayanya adalah Rp10,7 triliun dari pusat. Yang sekarang sudah hampir selesai, sekitar bulan Juli nanti akan ԁiresmikan,” kata Luthfi.
Selain tanggul laut, proyek tersebut juga ԁilengkapi pembangunan kolam retensi di kawasan Terboyo dan Sriwulan untuk mengendalikan banjir rob di wilayah pesisir Semarang-Demak.
“Di situ ada namanya kolam retensi, namanya Terboyo dan Sriwulan. Kolam retensi ini hampir menampung 6,4 juta meter kubik untuk menahan banjir. Giant sea wall untuk menahan gelombang,” jelasnya.
Luthfi menyebut proyek giant sea wall Semarang-Sayung nantinya bakal menjadi proyek percontohan nasional untuk pengendalian rob dan perlindungan garis pantai di wilayah lain.
“Ini sebagai percontohan barangkali nanti di daerah lain lewat Pak Menko sebagai pengendali giant sea wall,” ujarnya.
Luthfi meyakini, pembangunan giant sea wall tidak bisa berjalan parsial karena menyangkut perlindungan garis pantai lintas wilayah di Pulau Jawa.
Pemerintah pusat, kata Luthfi, telah menyiapkan proyek tersebut sebagai program jangka panjang dari Jakarta hingga Jawa Tengah.
“Ini nasional artinya long term, panjang. Tidak bisa parsial. Ini salah satu yang bisa nanti mengendalikan garis pantai kita dari mulai Jakarta, Banten sampai di tempat kita ini,” katanya.
Ia pun menyinggung proyek giant sea wall Sayung yang selama ini ramai masyarakat soroti karena kondisi rob di wilayah tersebut semakin parah dalam beberapa tahun terakhir.





