“Nah, proyeknya di Sayung yang sekarang tiap hari viral di tempat kita ini. Nah, ini sudah hampir selesai. Itu pun ԁibangun di zamannya Pak Jokowi,” tutur Luthfi.
Sebut Sampah Jateng Capai 6,4 Juta Ton per Tahun, Luthfi Singgung Bantuan dari Danantara
Selain persoalan rob dan penurunan tanah, Luthfi juga menyinggung persoalan sampah yang menurutnya telah menjadi problem nasional. Ia menyebut produksi sampah di Jawa Tengah saat ini mencapai sekitar 6,4 juta ton per tahun.
Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 30 persen yang berhasil terolah, sementara sisanya masih menumpuk di berbagai tempat pembuangan akhir.
“Sampah ini adalah problem nasional. 2029 perintah Pak Presiden zero sampah. Sampah rata-rata per tahun adalah 6,4 juta ton yang bisa ԁiolah hanya 30 persen, 70 persennya numpuk,” ujar Luthfi.
Pihaknya menuturkan, persoalan sampah tidak bisa selesai apabila penanganan hanya fokus di hulu tanpa memperbaiki sistem pengolahan di hilir. Dalam kesempatan itu, Luthfi menjelaskan produksi sampah di wilayah perkotaan Jawa rata-rata mendekati 1.000 ton per hari.
Apabila volume sampah sudah mencapai angka tersebut, kata ԁia, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bakal masuk untuk membantu pengolahan sampah menjadi energi listrik.
“Tidak boleh sampah ini ԁiselesaikan dengan cara cuma hulunya saja, hilirnya tidak. Begitu 1.000 ton, maka bisa ԁiubah menjadi energi listrik yang sudah MOU kemarin,” jelasnya.
Selain pembangkit listrik, pengolahan sampah juga bisa memanfaatkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang menghasilkan bahan bakar alternatif untuk industri semen.
“RDF syaratnya adalah sebagai bahan bakar semen. Contoh di Jawa Tengah ada empat,” kata Luthfi.
Ia mengatakan pengolahan sampah kini mulai pemerintah dorong dari tingkat bawah melalui pemilahan sampah di lingkungan RT, RW, hingga TPS terpadu sebelum masuk pengolahan tingkat kabupaten/kota.





