SALATIGA, beritajateng.tv – Ragam tarian etnis Nusantara memukau para tamu undangan dalam acara Royal Dinner dan Festival Putri Keraton yang berlangsung di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, akhir pekan kemarin.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian yakni Tari Ya’ahowu yang Ikatan Keluarga Ono Niha (Ikaoni) Salatiga bawakan. Tujuh mahasiswa UKSW asal Nias membawakan tarian tradisional Suku Nias, Sumatera Utara, tersebut secara kompak.
Tari Ya’ahowu merupakan tarian yang kerap masyarakat Nias tampilkan untuk menyambut tamu penting. Gerakan yang tegas serta hentakan kaki yang gagah membuat para tamu undangan memberikan aplaus setelah penampilan tersebut selesai.
BACA JUGA: Angkat Isu Seksisme di Media Sosial, Mahasiswa Psikologi UKSW Salatiga Raih Juara II ISEF 2026
Para tamu undangan yang hadir terdiri atas para raja, sultan, pemangku adat hingga tokoh budaya dari berbagai daerah di Nusantara.
Selain Tari Ya’ahowu, mahasiswa UKSW asal Suku Minahasa di Salatiga yang tergabung dalam Pinaesaan juga menampilkan Tari Kabasaran.
Tarian tradisional khas Suku Minahasa, Sulawesi Utara, tersebut menggambarkan keberanian, kekuatan dan jiwa ksatria para prajurit Minahasa.
Para mahasiswa dari berbagai suku di UKSW sengaja menyiapkan sejumlah pertunjukan seni untuk menyambut para peserta Festival Adat Budaya Nusantara VII. Festival tersebut untuk pertama kalinya berlangsung di Kota Salatiga.
“Kami berlatih sekitar satu minggu dua hari agar bisa tampil maksimal. (Tampil) pada acara yang terhadiri para raja, sultan hingga para pemangku adat di Nusantara ini,” kata Reminis Triani Zega, salah satu penari Tari Ya’ahowu.
Ia menjelaskan, Tari Ya’ahowu memadukan unsur Tari Moyo, Tari Maena dan Tari Tuwu. Tarian tersebut juga menggambarkan rasa syukur, kegembiraan serta kebersamaan masyarakat Nias.
Masih dalam rangkaian Royal Dinner dan Festival Putri Keraton, mahasiswa UKSW yang tergabung dalam Persatuan Warga Sumba di Salatiga (Perwasus) juga menampilkan Tari Kataga.
Selain itu, para tamu undangan juga tersuguhi Tari Sesaji Nusantara dan Tari Serimpi Sangopati Mangkunegaran. Direktorat Kemahasiswaan UKSW mengoordinasikan seluruh penampilan kelompok etnis mahasiswa tersebut.
Sementara itu, Rektor UKSW, Prof Intiyas Utami, mengungkapkan bahwa UKSW saat ini menjadi ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari 23 etnis Nusantara.
Menurutnya, keberagaman tersebut tidak hanya hadir dalam kehidupan akademik dan kemahasiswaan, tetapi juga terayakan melalui berbagai kegiatan yang kental dengan nuansa kebudayaan.
Setiap tahun, kelompok-kelompok etnis mahasiswa UKSW juga rutin menggelar Indonesian International Culture Festival (IICF).
BACA JUGA: Tim Basket UKSW Bersinar di Campus League 2026 Region Yogyakarta
Kegiatan tahunan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan dan merayakan kekayaan serta keragaman budaya Indonesia. Festival ini juga memperkenalkan budaya berbagai negara melalui keterlibatan mahasiswa internasional.
Prof Intiyas menilai keterlibatan mahasiswa UKSW dalam menghadirkan berbagai kesenian dan budaya Nusantara menjadi wujud peran generasi muda dalam merawat dan meneruskan warisan budaya.
“Hal ini sekaligus untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan dan perjumpaan lintas budaya yang mendukung pelestarian budaya, penguatan keberagaman serta pembangunan berkelanjutan,” tandas Prof Intiyas. (*)
Editor: Farah Nazila





