BLORA, beritajateng.tv – Musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Warga Desa Kedungringin, Kecamatan Tunjungan, terpaksa mengantre bantuan air bersih setelah sumur-sumur di permukiman mereka mulai mengering.
Dengan membawa ember, jeriken, hingga wadah penampung lainnya, warga memadati truk tangki bantuan air bersih yang didistribusikan ke desa tersebut.
Warga mengaku kesulitan air bersih sudah terasa sejak sekitar satu bulan terakhir. Kemarau berkepanjangan membuat debit air di sumur warga terus menurun hingga sebagian di antaranya tidak lagi dapat masyarakat gunakan.
BACA JUGA: 31 Ribu Keluarga di Jateng Terima Bantuan Air Bersih, BPBD Ungkap Tiga Daerah Kekeringan Terparah
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga bahkan harus mencari sumber air ke luar desa dengan menempuh jarak sekitar satu kilometer menggunakan sepeda motor.
“Kami harus antre bantuan air bersih karena sumur di rumah sudah mengering. Kalau tidak ada bantuan, kami mencari air ke desa lain,” ujar Temuhari, salah seorang warga.
Keluhan serupa disampaikan Putri, warga lainnya. Menurut dia, krisis air bersih hampir selalu terjadi setiap musim kemarau karena wilayah Desa Kedungringin merupakan kawasan tadah hujan yang memiliki keterbatasan sumber air.
Kepala Desa Kedungringin, Hadi, mengatakan pemerintah desa terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi selama musim kemarau.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Blora mencatat sebanyak 149 desa di 15 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
BACA JUGA: Imbas Kemarau, Kemensos Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Ribuan Warga di Cilacap Jawa Tengah
Pemerintah daerah terus menyalurkan bantuan air bersih secara bertahap ke wilayah-wilayah yang mulai terdampak.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secepatnya. (*)
Editor: Farah Nazila





