Nasional

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.387, Kalah Cepat dari Mata Uang Global

×

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.387, Kalah Cepat dari Mata Uang Global

Sebarkan artikel ini
Kurs Rupiah versus Dolar AS
Kurs Rupiah versus Dolar AS (sumber: freepik.com)

SEMARANG, beritajateng.tv – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis sebesar 0,21 persen ke level Rp 17.387 pada akhir perdagangan Rabu, 6 Mei 2026. Penguatan mata uang domestik ini terbilang terbatas daripada lonjakan signifikan yang terjadi pada sejumlah mata uang global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu pukul 15.48 WIB, pelemahan dolar AS mendorong penguatan berbagai pasangan mata uang utama. EUR/USD naik 0,48 persen ke level 1,17, sementara GBP/USD menguat 0,53 persen ke posisi 1,36.

Selain itu, AUD/USD tercatat melonjak 0,95 persen ke level 0,72 dan NZD/USD bahkan naik hingga 1,21 persen ke posisi 0,59. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap dolar AS cukup kuat di pasar global.

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Sentuh Rp17 Ribu, Pengamat Undip: Indonesia Ketergantungan Impor Minyak

Di kawasan Asia, yen Jepang juga mencatat penguatan signifikan dengan penurunan USD/JPY sebesar 1,11 persen ke level 156,14. Sementara itu, USD/CHF melemah 0,44 persen ke level 0,77 di tengah dinamika pasar global yang menekan posisi greenback.

Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas akibat meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal kedua.

“Bank Indonesia cenderung menjaga stabilitas agar rupiah tidak terlalu volatil, sehingga penguatannya lebih terukur daripada mata uang G10,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai posisi rupiah sebagai mata uang negara berkembang membuatnya lebih sensitif terhadap persepsi risiko global.

Menurutnya, stabilitas harga komoditas ekspor dan daya tarik imbal hasil obligasi domestik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

“Rupiah sangat terpengaruhi oleh persepsi risiko terhadap imbal hasil obligasi domestik dan stabilitas harga komoditas ekspor,” jelasnya.

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Atas Dolar AS Melemah, Apindo Jateng Khawatir Bisa Ganggu Industri dalam Negeri

Ia juga menyoroti tekanan eksternal seperti kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat serta ketidakpastian energi di Selat Hormuz yang turut membayangi inflasi nasional. Kondisi ini membuat penguatan rupiah cenderung lebih terbatas, meskipun sentimen terhadap dolar AS sedang melemah. (*)