SEMARANG, beritajateng.tv – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertahan di kisaran Rp17.325 pada Minggu, 3 Mei 2026, meski hanya melemah tipis 0,05 persen pada akhir pekan ini.
Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, usai sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.393 per dolar AS pada April lalu.
Pengamat ekonomi Universitas Diponegoro, Wahyu Widodo, menilai melemahnya rupiah salah satunya ԁipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik Iran dan Amerika Serikat yang sempat memanas dan memicu ketidakpastian di pasar global.
Wahyu menyebut, kondisi itu mendorong investor global mengalihkan asetnya ke instrumen yang ԁianggap lebih aman seperti dolar AS. Hal itu Wahyu ungkap saat beritajateng.tv hubungi, Minggu, 3 Mei 2026.
BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Melemah, Siap-siap Harga HP dan Laptop Naik
“Nah, kalau terkait kurs ini sebabnya ada beberapa hal, yang pasti sangat berkaitan dengan politik di Timur Tengah karena konfliknya membawa ketidakpastian di pasar finansial. Orang memburu safe haven asset, termasuk salah satunya dolar AS. Jadi otomatis dolar menguat hampir di seluruh mata uang,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, penguatan dolar tersebut terjadi hampir terhadap seluruh mata uang dunia lantaran pelaku pasar cenderung menghindari risiko di tengah situasi global yang belum stabil.
Selain faktor global, Wahyu menyebut tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kondisi domestik, terutama tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak yang mencapai 60 persen.
“Kemudian juga ada tekanan dari sisi domestik. Ketergantungan terhadap impor minyak kita tinggi, sekitar 60 persen. Itu ada hubungannya dengan Timur Tengah. Akhirnya ada kemungkinan defisit perdagangan, dan itu pasti akan menekan nilai tukar,” jelasnya.





