“Untuk jumlah peserta lomba mewarnai ada 100 anak untuk 2 kategori, untuk lomba bahasa Inggris ada 40 anak, Hot Wheels itu on the spot, jadi anak yang datang, dia mau ikut main, langsung kami ajak ikut lomba,” terangnya.
BACA JUGA: DP3A Kota Semarang Peringati Hari Anak Nasional dengan Berbagai Lomba Kreasi
Melihat antusias anak-anak yang ramai mendaftar, Deded mengungkap kemungkinan Tansah Bingah akan menggelar kembali lomba yang sama di tahun depan.
“Ini baru pertama kali dilaksanakan, cuma kalau melihat antusiasnya seperti ini, kami akan adakan rutin ya, supaya buat anak-anak lebih terpacu untuk ikut. Saya lihat juga kok mereka usia segitu sudah tekun, sudah mengerjakannya telaten, jadi saya senang juga,” akunya.
Lebih lanjut, Deded berharap dengan adanya lomba mewarnai dan bahasa Inggris ini bisa merangsak motorik hingga kreativitas anak-anak. Tak hanya itu, kata Deded, besar harapannya agar anak-anak yang ikut serta dalam kompetisi ini mampu memiliki jiwa untuk berkompetisi.
“Daripada mereka hari Minggu hanya di rumah, main game, dll, seperti ini sangat baik, supaya anak-anak punya jiwa kompetisi. Dia bisa melihat kaluapun nanti dia gak menang, dia bisa punya kerendahan hati mengakui bahwa orang lain lebih baik, itu tujuan yang kami inginkan,” pungkasnya.
Cerita orang tua peserta lomba mewarnai, ingin asah mental hingga ajarkan anaknya berkompetisi
Salah satu orang tua peserta lomba mewarnai, Andriansyah, mengungkap alasannya mengikut sertakan putrinya, Allesa, dalam perlombaan tersebut. Putrinya yang saat ini berusia lima tahun itu ikut lomba mewarnai kategori A.
Andriansyah yang berdomisili di Candisari itu mengaku Allesa biasanya mengikuti lomba mewarnai di sekolah dan kampungnya. Dalam hematnya, lomba mewarnai yang Tansah Bingah adakan ini bisa melatih anaknya berproses dan memiliki jiwa kompetisi.
“Sebenarnya alasan saya pribadi pengin melatih anak untuk berproses, mengasah mentalitasnya juga, biar dia punya jiwa kompetisi,“ ungkap Andriansyah. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





